Saya selalu memesan buku puisi terbaru yang Iyut Fitra tulis dan terbitkan. Ini buku puisi Iyut yang ke 8. Kali ini:
Kumpulan Puisi Iyut Fitra
KEPADAMU KAMI BICARA

Foto Sampul Witjak Widhi Cahya, dari karya instalasi Hanafi Muhammad di Pameran “Xalisco Performative Exhibition: Juan Preciado” di Galeri Salihara dalam acara “Literature and Ideas Festival 2017”
Disain sampul: Ijot Goblin
Penerbit: Kabarita Padang, vi + 72 hlm. 19 cm x 16 cm.
Kata pengantar: Esha Tegar Putra
Hrga Rp. 65.000.
Iyu menulis puisi mulai dari tahun 1990 hingga sekarang. Dia merakan mulai terasa makin berat dan sulit. Betapa rasanya, apa pun segala telah tertuliskan. Akan tetapi, di situ pulalah ternyata stamina seorang kreator akan diuji.

Pertanyaannya, apakah Iyut masih memiliki kemampuan untuk terus mengekspresikan segala sesuatu, apakah ia telah terkurung dalam pola yang itu-itu saja, atau bahkan –justru ia malah mundur dari apa yang telah dicapainya. Saya sendiri belum berhasl menemukan kebaruan dalam puisi setelah buku puisi “Air Mata Kopi” masuk 10 besar Hari Puisi Indonesia 2014. Berat, sungguh, menulis puisi itu
Semoga Iyut Fitra terus menulis puisi. Serupa zaman yang terus bergerak, menulis tentu juga perlu kebaruan. Apa jadinya kalau kita hanya mengulang-ulang. Maka pencarian terhadap kebaruan-kebaruan barangkali menjadi titik tolak buku ini.

Bisa dilihat dan dirasakan, banyak hal yang berbeda dalam buku ini yang mungkin tidak ditemukan pada buku-buku puisi Iyut sebelumnya. Tema tentang benda-benda, ruang, dan peristiwa menjadi usungan yang konsisten dan sangat berjarak dengan tokoh-tokoh manusia.

Begitulah proses sederhana dari seorang Iyut. Barangkali secara lebih jauh dan dalam, buku itu sendirilah yang akan menjawab.
Semakin lama kian terasa menulis puisi makin sulit. Tapi seorang penyair harus meruntuhkan kesulitan-kesulitan itu.
Itu sebab, saya selalu upayakan membeli buku-buku puisi yang diterbitkan oleh siapa saja. Saya punya 2 rak besar berisibuku puisi dari para penyair nasional hingga penyair komunitas. Itu sebagai bentung apresiasi atau dukungan moral yang saya bisa.

Salam puisi tak henti-henti…
Gol A Gong/Advetorial


