Di Makrab ini, saat screening film, kami semua berdiskusi mengenai film yang diputar. Film saya diputar dihadapan para dosen-dosen, kakak tingkat, dan teman-teman saya. Saya deg-degan. Setelah selesai menonton film saya, tugas berikutnya saya disuruh maju ke depan. Saya harus menjelaskan kepada penonton apa makna, tujuan, dan kendala dari film pendek yang saya buat. Saya tahu film saya jauh dari bagus. Saya kuliah di JFA itu justru mau belajar bikin film yang bagus. Di kampung saya, Serang-Banten, iklim bikin film pendeknya nggak kayak di Yogya.

Ketika sudah selesai screening film, kami semua lanjut tracking atau jurit malam semacam jalan-jalan di tengah malam. Tapi, di jurit malam ini mata kami semua ditutup dengan kain dan di pandu oleh LO (liaison officer) kami. Oh ya, LO itu adalah salah satu kakak tingkat yang ada di kelompok mahasiswa baru. LO itu tugasnya untuk mengawal, bertanya untuk para mahasiswa baru, hingga bertanggung jawab atas kelompoknya.
Saya lanjut ke topik jurit malam, ya. Mata kami semua ditutup dengan kain hitam dan kami semua berjalan sekitar 2 hinga 3 km dari tempat kami. Kami berjalan di antara hutan-hutan yang gelap. Kami boleh berhenti ketika memasuki pos.

Di jurit malam ini ada 6 pos, dan tentunya setiap pos itu berbeda-beda pertanyaannya dan orang-orangnya juga. Kelompok saya cuma hanya sampai pos 4, karena dosen kami menyuruh para mahasiswa baru agar kembali ke perkemahan. Waktu juga sudah tengah malam banget.
Ketika kami semua sudah tiba di tempat penginapan, kami disuruh memasuki tenda untuk istirahat. Namun beberapa dari kami masih ada yang di luar. Akibatnya seluruh kakak tingkat mendatangi kami. Semua disuruh keluar, lalu berkumpul . Di sinilah mental kami semua di uji. Kami harus menghadapinya. Kami di dorong-dorong, diteriakin, hingga seseorang dari kami ada yang ingin berantem beneran dengan kakak tingkat. Di posisi ini, saya hanya bisa terdiam, mendengarkan teriakan-teriakan dari kakak tingkat, tetapi menurut saya tidak terlalu berlebihan sih, karena tidak ada unsur kekerasan, tidak ada main fisik.

Setelah acara ospek selesai, kakak-kakak mahasiswa menerima kami. Senangnya! Kami semua merayakan peristiwa ini. Kami semua diterima jadi mahasiswa di JFA (Jogja Film Academy). Kami semua duduk menghadap api unggun yang panas tapi terasa indah. Saya merasakan kebahagia karena sudah resmi masuk bagian dari JFA.

Tiba-tiba saya teringat kakak saya yang sejak kelas 5 SD tahun 2012 sekolah dan kini kuliah di Abu Dhabi. Mengingat kakak paling besar yang kuliah di China. Saya sekarang seperti mereka, harus mandiri sendirian di Yogyakarta. Saya juga teringat adik saya yang bungsu, yang homeschooling di rumah dan bercita-cita ingin kuliah di Korea. Kasihan, si bungsu, kini sendirian di rumah.

Kenangan tentang rumah dan kakak-adik berganti ketika semua melakukan pesta kecil-kecilan, seperti makan-makan, lalu menyanyikan karaoke hingga larut malam. Kami semua kini mahasiswa JFA dimana dosennya hebat-hebat. Dosennya sudah bikin film kelas festival internasional.
Bagi saya, ini adalah peristiwa yang indah. Terima kasih kakak-kakak mahasiwa JFA. Bimbing saya untuk jadi sineas hebat, ya. Saya siap belajar. *



