Waktu masih menjadi mahasiswa, saya merelakan terancam “DO” demi bisa berkeliling Indonesia. Saya sudah melintasi separo kepulauan Indonesia ketika masih menjadi mahasiswa. Melihat indahnya Taman Kupu-kupu Batimurung, Maros Sulawesi Selatan, mencoba pahitnya “kopi jos” di Yogyakarta, melintasi ganasnya Sungai Musi Palembang, merasakan dinginnya bendungan di Katulampa Bogor, dan  pengalaman di kota lainnya.

Ketika selesai wisuda, saya berkeinginan terus bisa traveling keliling Indonesia. Maka ketika ada kesempatan mengajar ke daerah terpencil di Indonesia saya mendaftar. Selain ingin berbakti kepada negara, saya punya tujuan lain, yakni agar bisa traveling. Menyelam sambil minum air. Saya “traveling” di Aceh akhir tahun 2011 untuk mengabdi satu tahun di pedalaman Aceh Selatan. Saya menginjak tanah rencong dengan segala dilemanya.

Gambar: Penulis di Sungai Musi, Palembang.

 Saya melihat dengan mata kepala sisa-sisa konflik dan efek sosial yang ditinggalkan. Saya mengunjungi tugu titik persinggahan Sang Proklamator Bung Hatta saat beliau ke Aceh Selatan, serta melihat tapak legenda manusia raksasa di pantai barat Kota Tapaktuan, Aceh Selatan. Saya minum kopi aceh, makan di acara maulud yang diadakan hampir sepanjang tahun. Nikmatnya mie aceh, pahitnya madu rimba Buluhsuma sudah saya rasakan di sana.

Tidak puas dan kapok disitu, saya terus mencari kesempatan agar bisa terus traveling dengan cara berbeda. Akhirnya datang kesempatan kembali mengabdi menjadi guru di daeah terpencil dengan status PNS di Papua Barat. Tidak pikir panjang, dengan mata berkaca-kaca ransel saya sandang dan saya terbang ke Tanah Papua. Terlepas dari tugas sebagai pegawai negeri, saya ingin terus  melanjutkan misi saya keliling Indonesia bahkan dunia.

Gambar:Penulis di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali.

Tahun 2015 saya menjadi pemburu sayembara menulis untuk guru. Dengan kemampuan menulis saya sangat pede dan berani bersaing. Pengalaman bergiat di jurnalistik saat menjadi mahasiswa sangat membantu saya. Kemampuan menulis mengantarkan saya menginjak Tanah Dewata Bali tahun 2016. Sebuah event terbuka, bergengsi, dan greget karena diadakan di Bali membuat saya terpacu.

Saya senang musik

Setelah bersaing dengan ratusan guru di Indonesia, karya tulisan saya lolos untuk mengikuti Teacher Superchamp (TSC) 2016 yang diadakan KPK. Acara TSC membawa saya bisa berjalan-jalan di Pantai Kuta, Bali. Berenang di hotel mewah Nusa Dua, Bali, dan berbelanja di distro fenomenal Joger.

Semenjak itu saya menjadi guru yang sering traveling berkat menulis. Bertemu dengan orang-orang hebat. Satu meja sambil makan roti bakar di Tanggerang dengan novelis mega best seller Habiburrahman El Shirazy telah saya rasakan. Bertemu langsung Helvi Tiana Rosa (pendiri FLP), komikus Fazameonk, dan hangatnya tangan Presiden Joko Widodo di Istana Negara sudah saya lalui. Semua berkat menulis.

Gambar: Penulis di Rumah Teater WR.Rendra di Depok.

Saya traveling dengan cara berbeda dan menikmatinya dengan cara saya sendiri. Ketika ada perjalanan “dinas” saya akan reschedule jadwal  kepulangan satu atau dua hari diluar jadwal agar bisa berjalan-jalan ke luar hotel. Saya akan mengunjungi pasar tradisional di daerah yang sedang saya kunjungi. Bertemu dan berinteraksi langsung dengan warga atau sekedar minum kopi di tempat ikonik. Dan tentu saja saya selalu membawa buku catatan untuk saya tulis menjadi catatan perjalanan.

Sudah terlanjur basah, biar menyelam sekalian. Saya akan terus bepergian sepanjang sisa hidup saya. Naik ke puncak Everest di Nepal, masuk ke lorong Piramida Mesir, naik perahu di Sungai Gangga, atau keliling Ka’bah di Mekah adalah mimpi suatu saat yang ingin saya wujudkan sebelum saya mati. *

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==