Di puncak malam yang mulai mengelincir ke angka 1, saya bertanya-tanya ke dalam diri saya: Kenapa ada orang yang tega mencuri uang negara sebesar itu? Apakah mereka takut miskin atau serakah?

Alhamdulillah, hingga sekarang saya masih mampu menahah diri untuk tidak mengambil sesuatu yang bukan hak saya. Barangkali kunci pertahanannya karena Bapak dan Emak menanamkan nilai-nilai jangan mencuri. Jangan mengambil sesuatu yang bukan haknya.
Ya, jangan mencuri. Sifat seperti ini lambat laun mengakar pada diri saya. Di novel-novel yang saya tulis, pasti para tokonya melawan korupsi. Secara sadar saya melaan perilaku korup. Saya ingat betul, hal ini saya terapkan di kehidupan sehari-hari.

Saya paling marah jika urusannya soal korupsi. Ketika kuliah di Fakultas Sastra UNPAD dulu, saah satu penghuni kos yang ditunjuk jadi bendahara menggelapkan uang. Saya meminta pertanggungjawaban dia dan kemudian mengusirnya agar pindah kos.

Di Pemerintah Provinsi Banten, saya dn teman-teman pegiat anti korupsi melawan penguasa korup. Novel saya yang berjudul Surat dari Bapak mendapat anugerah Literasi Anti Korupsi dari KPK.


Jadi, jangan mencuri, ya. Kasihan orang-orang miskin di sekeliling kita. Kadang ada rasa marah ketika tahu uang kita banyak dicuri oleh beberapa orang saja dengan jumlah angka besar.
Bagaimana menurut kamu? Apakah koruptor dihukum mati saja? Dimiskin dulu, ya?
Gol A Gong


