Di pesawat Wings Air aku tertidur. Capek. Tidak terasa 30 menit kemudian pesawat sudah mendarat di bandara El Tari, Kupang. Keluar dari bandara Kupang, langsung mencari taksi. “Mercusuar!” kataku. Kenangan mercusuar di Ba’a , Rote, sangat membekas. Lokasi yang indah.

Taksi melaju. Percakapan berlangsung tentang Jokowi yang ke Ende pada 1 Juni lalu. Supir taksi memperlihatkan gedung kantor Gubernur NTT yang menyerupai alat musik sasando. Aku mengagumi gaa arsitekturnya – sangat khas NTT. Sementara di kampungku, Banten, tidak ada gedung pemerintahan yang ikonik.

Tidak lama, “Sudah sampai.”
Aku mencari-cari, mana mercusuarnya? Kepalaku tengadah, kedua mataku melihat ke langit. Supir taksi menunjuk ke sisi kiri mobil. Ada gedung berlapis kaca. Ada tulisan Yayasan Pendidikan Mercusuar. Ah, ternyata sekolah!

Hah? Aku geleng-geleng kepala. Si supir dari Ende. Aku langsung minta diantarkan ke Hotel Flobamor. Ternyata tidak jauh dari sekolah mercusuar tadi.
Resepsionis juga menerka-nerka tentang mercusuar yang aku maksud. Lalu aku tunjukkan foto mercusuar di Baa, Rote Ndao.
Oh, itu lampu kapal. Itu benteng Belanda. Ya, sudah.. Sekarang check-in dulu. Pingin mandi. Tadi dari Rote naik pesawat pukul 06:30. Belum darat, karena cafe belum buka. Semua ke gereja dulu.


