Karya mereka berdua adalah hasil riset dari ķampung Kota yang ada di Bandung dengan nilai-nilai sejarah dari masa Kolonial Belanda. Maka dalam pementasan, mereka pun menghadirkan Daendels sebagai hantu Kota dan mitos yang terus menjadi sejarah. Bagi kampung Kota di Bandung harus selalu waspada jika sewaktu-waktu tergusur oleh kebijakan pemerintah yang berubah-ubah sesuai selera kekuasaan.

Eko dalam wawancara singkat setelah pementasan banyak menceritakan hasil risetnya bersama teman-teman selama di Bandung. Ia menemukan banyak hal menarik dan meminjam istilah seniman lain, yakni “akal akalan”.

“Akal-akalan” ini banyak dijumpai di kampung Kota tidak hanya di Bandung tapi di Indonesia. Akal-akalan juga menjadi ciri khas bagaimana masyarakat kota beradaptasi pada kehidupan yang sulit , seperti dalam pertunjukan Ferina dan Eko .

Pementasan dimulai dengan para pemain yang didominasi remaja putri melewati, meloncati, menunduk seolah melewati tembok atau memasuki lorong, melewati portal sebagai tempat bermain, lalu pelan-pelan pertunjukan bergerak ke presentasi apa yang mereka dapat di kampung Kota.


