Lalu pelan-pelan kita diajak untuk melihat bagaimana anak-anak gadis kelas bawah yang ingin tampil cantik seperti meluruskan rambut mereka menggunakan setrika. Ada juga ibu yang bersalawat menggunakan galon yang seolah-olah seperti toa dan banyak macam lagi.

Pertunjukan yang menarik. Para penonton diajak untuk merasakan apa yang penduduk kota alami, yaitu tergusur dan tergeser.


Di akhir pertunjukan, Daendles muncul dalam bentuk mirip pantomim atau hantu yang menyanyikan lagu mental. Sementara pada layar tertulis jelas kata-kata yang bagus dari salah seorang warga Kampung Kota bernama Agus: bagi saya mah kreativitas yang tumbuh di kampung Kota seperti surga yang tak di rindukan.
Malam mengantar pertanyaan- pertanyaan yang tak selesai dijawab hari ini seperti permasalahan Kota yang tak mesti terjawab.



