SAKIT JANTUNG
Aku tidak memedulikan Emak yang cemas. Bahkan itu terus berlangsung hingga aku remaja. Aku terus menyiksa Emak dengan tingkah lakuku. Bapak menjadi penengahku untuk meyakinkan Emak, bahwa aku sebetulnya melakukan hal-hal baik.

Saat aku remaja, aku makin tidak terkendali. Bahkan kadang tidak pernah minta ijin, aku sudah berada di kota lain. Aku jarang ada di rumah. Aku mengibaraqtkan diriku ini Chairil Anwar yang bohemian atau Old Shaterhand yang menaklukkan padang prairi.
”Aku ini lelaki, Mak!” kataku.
Aku ingin Emak menyadari, bahwa aku berbeda dengan keempat anak Emak yang lain. Aku ingin menghirup udara sepuas-puasnya. Pernah Bapak menunjukkan postcard candi Borobudur, aku ingin melihatnya. Akhirnya, Emak terkena penyakit jantung. Beberapa kali Emak masuk rumah sakit, karena memikirkan aku yang entah tidur di mana.

Lambat laun, Emak mulai melepaskan aku. Emak mulai memahami bahwa aku memilih belajar di kehidupan sesungguhnya; alam. Walaupun Emak jadi sering sakit-sakitan, petuahnya tidak pernah aku lupakan untuk bekalku di jalanan. Misalnya, aku hidup harus jujur, tidak boleh mengambil yang bukan hakku. Aku harus saling tolong-menolong.

”Terutama, kamu harus menghormati perempuan. Jika kamu sedang berada di kendaraan umum, berikanlah tempat dudukmu pada wanita. Apalagi dia wanita hamil atau orang tua. Insya Allah, kebaikanmu itu nanti akan Allah balas kepada Emak dan saudra-saudara perempuanmu. Jika Emak dan saudara-saudra perempuanmu sedang di dalam perjalanan dan mengalami kesulitan, Allah akan mengirimkan orang untuk menolong kami. Itu adalah berkat kebaikan-kebaikan yang kamu tanam.”

Emak juga mengingatkan aku, jika aku kemalaman di dalam perjalanan, tempat yang paling aman untuk menginap adalah masjid atau mushola. Juga kantor polisi.Meminta tolonglah kepada mereka dengan kesopanan. Aku juga diingatkan untuk terus mendekat kepada Allah dengan cara sholat. Aku pikir, itu adalah nasehat-nasehat wajar dari orang tua. Aku selalu mengingatnya dan menjadi bekal di dalam perjalanan.

PENDIDIKAN
Ada hal lain yang membekas di benakku. Itu adalah warisan terbesar yang ditanamnkan Emak dan Bapak kepadaku, yaitu pengabdiannya pada dunia pendidikan. Emak dan Bapak begitu ringan tangan membantu siapa saja yang membutuhkan pendidikan. Emak adalah kepala sekolah di SKKP (Sekolah Kejuruan Keputrian Pertama) dan Bapak kepala sekolah di SGO (Sekolah Guru Olahraga) Serang, Banten. Jika ada orangtua murid yang membutuhkan pertolongan keringanan biaya, Emak dan Bapak tidak bertele-tele menolong mereka. Bahkan rumah kami menjadi transit bagi guru-guru muda dari Bandung, yang dikirim belajar ke Banten.

”Itulah yang akan kita bawa mati, amal jariyah,” kata Emak. Jika aku mengamalkan ilmu, itu juga bekalku kelak di akhirat. Dan mereka tidak pernah berhenti mengingatkan kami – anak-anaknya, untuk mencari ilmu ke mana saja, karena janji Allah tidak akan bohong. ”Semakin tinggi ilmu seseorang, maka semakin tinggilah derajat orang itu.” Yang paling melapangkan dadaku, Emak dan Bapak tidak menekankan anak-anaknya untuk bergelar tinggi; S1, S2, atau S3.

Emak dan Bapak lebih mementingkan, apakah nanti kami akan berguna atau tidak di masyarakat, karena sebaik-baiknya orang adalah yang berguna bagi lingkungannya. Emak juga selalu mewanti-wanti aku, agar selalu menyisihkan setiap rezeki yang aku peroleh sebesar 2,5% saja. ”Itu sedikit. Sepantasnya adalah 10 hingga 25%. Coba saja hitung, jika kamu mendapat rezeki Rp. 1000,-, kamu hanya membagikan Rp. 250,-. Masih ada Rp. 750,- Masih banyak, daripada Allah tidak memberi kamu rezeki sepeser pun.”
Aku paling menyukai nasihat Emak yang satu ini, ”Tangan di atas lebih mulia daripada tangan di bawah.” Itu memberiku spirit yang besar dalam mengarungi hidup ini. Apalagi ketika aku harus kehilangan tangan kiriku, diamputasi sebatas sikut. Emak tidak pernah mengingatkan aku, bahwa aku ini buntung. Emak justru memberiku suntikan vintamin, bahwa aku harus mencari pekerjaan. Bahwa aku harus mampu memberi kepada orang lain, karena itu adalah bagian dari perintah Allah.
”Bagaimana kita bisa berzakat kalau tidak bekerja?” tanya Emak. Aku setuju.(*)
Gol A Gong, September 2007

