Ya, beliau adalah salah satu guru saya. Buku catatan perjalanan beliau “The Journey” adalah salah satu perkenalan awal saya dengan buku-buku bergenre perjalanan. Takdir menggariskan saya kemudian menulis buku solo pertama saya, “Travelicious Lombok” yang terbit pada 2011.

Sejak itu, buku-buku antologi genre perjalanan pun beruntun terbit. Makanya, sempat embel-embel “travel writer” ditempelkan pada diri saya.
Padahal, genre yang membuat saya terpukau dan jatuh hati pada menulis adalah sastra, terutama puisi dan cerpen. Sejak SMP hingga SMA, saya tak lepas dari membaca dan menulis dua genre tadi: puisi dan cerpen.

Laiknya tipe peselancar, genre bacaan saya meluas. Ketertarikan saya pada dunia menulis pun meluas. Saya belajar menulis esai, artikel, opini, karya tulis ilmiah, jurnal, sketsa pendek, dan sebagainya.
Itu yang tidak hilang sampai detik ini. Kendati tugas-tugas kuliah bejibun, tapi cinta saya tetap pada menulis. Saya selalu menyempatkan diri menulis di blog saya. Blog itu ibarat rumah tempat saya bisa nyaman bertemu orang-orang dan bertukar cerita.

Rupa-rupa pengalaman itulah yang saya bagikan kepada 60-an perwakilan komunitas penggerak literasi di Lombok yang diadakan oleh Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat pada Rabu lalu (24/08) di Aula Cilinaya.
Saya diminta membawakan presentasi dengan topik “Kiat-Kiat Sukses Menulis bagi Pemula”. Sebelumnya saya dibisiki oleh panitia bahwa teman-teman penggerak literasi ini ada yang kesulitan menyampaikan kisah-kisah mereka selama berliterasi di komunitasnya. Padahal menuliskan cerita itu sangat berarti di era sekarang ini. Tidak hanya sebagai upaya dokumentasi, tapi juga membangun komunikasi dan kepercayaan dengan pihak luar.

Saya beberkan apa yang telah saya lakukan selama ini di sekolah menulis di Surabaya juga Kelas Menulis Tepi Danau. Bahwa, saya tak segan membagikan metode-metode belajar menulis kreatif yang saya terapkan dan terbukti berhasil di kelas.
Buat saya, tak perlu merasa takut metode tersebut dipakai. Justru, saya meyakini, bahwa apa yang kita bagikan akan bertambah. Dan yang saya yakin bahwa metode itu ketika dieksekusi oleh orang yang berbeda, hasilnya juga akan berbeda. Mirip dengan resep makanan.

Hal yang saya syukuri adalah akhirnya bisa berjumpa dengan para penggerak literasi di Lombok, pulau kelahiran saya. Kami berkumpul dengan visi yang sama, ingin meliterasikan masyarakat, terutama anak-anak (muda). Apalagi mengingat IPM NTB berada pada urutan kedua dari 34 provinsi di Indonesia. Indikator yang nilainya rendah adalah kesehatan dan pendidikan.

Maka, tidaklah pantas kiranya kami yang berkumpul di ruangan tersebut, orang-orang yang mengenyam pendidikan tinggi, tidak berbuat apa-apa pada masyarakat.
Seperti yang dikatakan, “Mendidik adalah tugas orang-orang terdidik.”

Sudahkah kita mengambil peran?
Lalu Abdul Fatah

