dari masa silam yang kau kenang
sebuah sajak tak pernah selesai untuk ditulis
sebab pada matamu, langit selalu menawarkan biru yang purba
dan setiap pengembaraan panjang, bukankah bermula dan kembali pada rumah?
rindu yang berjarak, selalu menunggu sepi yang diam-diam dinanti

sore itu, ada sepasang mata yang menangkap kepak burung
dan hinggap di reruntuhan
“kaibon adalah rumahmu sekarang
tempat kelahiran yang abadi,” kata sesuara yang lebih mirip suara seorang ibu.
bangunlah mimpi dengan bata kalawan kawis, katanya
sebab luka yang membekas dari reruntuhan
cinta
selalu punya waktu dan jarak untuk dipagkas
dari reruntuhan, kita pernah menangkap bening cahaya
mencatatkan risalah pada muasal kelahiran
kau dan aku kini terjebak dalam keasingan masa silam.


