Meski hanya sekadar celetukan, barangkali akan mematahkan semangat. Lebih bahaya lagi jika efeknya adalah sakit hati. Aduh, aduh, jangan sampai. 🙏
Maka aku oke-oke aja, dengan janji membuatkan lagi jika sampai H-1 hubby traveling lagi dan paket belum tiba. Hari ini, Minggu 6 November 2022, belum ada paket yang sampai. Hubby sudah mengingatkan untuk menyelesaikan soal celemek. Jika harus beli hayuk diantar, katanya.

Tapi beliau punya bini yang rada perfeksionis, rada keras kepala, sok yakin tea, bahwa solusinya adalah bikin sendiri. Bahan ada, peralatan perang tersedia. Ide? Udah ada sejak kapan, mau bikinin celemek lain buat back up. Kurang sombong apa bininya, kan. Astaghfirullah 🙈
Namun, yang susah hanyalah waktu dan motivasi. Sampai sore belum tersedia juga celemek pengganti. Aku yakin punya celemek atau apron lain, tinggal menutupi merek apron dengan kantong besar ala Celemek Ajaib Paman Gong. Eh ternyata apron lain entah di mana. 🙈

Oke, sore itu juga aku keluarin mesin jahit portabel, benang, kain, dan printilan alat jahit. Gunting sana sini, ukur sana sini, siap juga memasuki waktu bagian menjahit. Tiba-tiba setengah jalan lampu mesin jahit mulai redup. Aku heran karena biasanya terang benderang. Sampai akhirnya listrik mati.
Hubby saat itu sedang menulis naskah dan butuh jaringan internet. Oh! Internet bisa jalan jika listrik hidup. Wah, ternyata tegangan terlalu kuat, KWH meter mematikan diri. Alhamdulillah listrik berhasil hidup lagi.

Namun drama baru dimulai. Mesin jahitku mati. Lampunya mati. Aku pindah ke colokan lain, masih mati. Waks. Putar otaklah. Aku putuskan ke permak jeans terdekat, mau minta tolong jahitin dikit lagi. Lainnya aku finishing dengan jahit tangan. Dengan semangat, cinta, dan kasih sayang pastilah selesai, pikirku.
Hubby bersiap mengantar, tapi aku tolak karena selain dekat dan lebih praktis kujangkau dengan naik motor, aku berencana mencari alat lukis khusus untuk kain. Jadi lolipop, es krim, buku, dan hiasan di celemek akan aku gambar saja karena pertimbangan waktu. Akan lebih lama untuk menjelaskan ke penjahit, bikin lolipop dan sebagainya itu. Sedangkan semua desain sudah ada di kepalaku. Kupikir lebih mudah digambar langsung.

Kurang sibuk apa bininya hubby ini yak. Padahal hubby nggak minta hiasan macam-macam. Pokoknya ada kantong aja. Apron apa aja juga beliau mau. Bininya aja yang suka merepotkan diri sendiri. 🤣
Sambil bersiap pergi, aku telepon sana sini, cari tetangga yang punya mesin jahit, mau nebeng jahit, sekalian bordir. Dahlah, tiba-tiba banyak ide muncul di kepalaku. Heuheu.
Trus hubby mendekatiku dan bilang, “Mau nggak dicoba dinyalakan di colokan lain? Siapa tahu bisa jalan lagi mesinnya.”

Aku dengan keukeuh bilang, “Udah kucoba di colokan lain, nggak bisa, Pah.”
Dia lebih keukeuh, tapi tetap bicara dengan tenang, “Ini mah dicoba aja dulu. Siapa tahu, kan? Kalau nggak bisa ya Mamah terpaksa cari mesin jahit lain. Bismillah, coba aja.”

Aku turutin permintaannya. Aku colokin di tempat biasa magic jar bertengger. Lampu mesin jahit masih mati. Aku hampir saja meledeknya, tapi kakiku menginjak pedal mesin jahit. Masya Allah, mesin jahit beroperasi dengan kondisi lampu penerangnya mati.
Aku menyadari betapa bodohnya diri ini dan tertawa karenanya. 🤣
Selanjutnya ya begitulah, akhirnya celemek kedua ini jadi. Dah , ya, jangan diledek akunya. 🤣
Tias Tatanka


