Kami punya anak laki-laki dua. Anak pertama Gabriel Firmansyah, sejak tahun 2012 sekolah di kelas 5 Madrasaah Al Ain, Abu Dhabi. Sekarang kuliah semester 3 di Mohammed bin Zayed University for Humanities, Abu Dhabi. Dia menjelma jadi lelaki yang hobi nge-rap. Anak lelaki kedua alumnus SMAN 6 Serang dan kuliah di Akademi Film Yogyakarta.


Saya mulai menulis tentang Gabriel. Ketika lahir, 10 Juni 1999, nama yang saya sodorkan adalah : Fajar Senantiasa Bersinar. Tapi keluarga besar keberatan, nama itu terlalu bergaya seniman. Akhirnya usulan saya yang lain : Gabriel. Saya menggemari penyanyi Genesis, yaitu Peter Gabriel. Tias dan saya juga menemukan persamaan lain, menyukai pemain bola Argentina : Gabriel Batistuta. Lalu keluarga ingin kelak putra kami menjadi orang yang selalu mengabarkan kebaikan. Maka jadilah : Gabriel Firmansyah Harris.


Saat kecil Gabriel memiliki kemampuan indigo. Dia gemar main game, ngotak-atik komputer. Cenderung pendiam. Tapi senang traveling. Saya selalu mengajarinya beserta adiknya – Jordy Alghifari, cara yang baik traveling. Kami naik bus ke Surabaya, traveling ke Jawa Timur, ke Singapura, ke mana saja. Saya ajari mereka cara naik kendaran umum dan adaptasi di kota yang baru dikunjungi. Saya kenalkan mereka pada kehidupan yang sesungguhnya.


Maka saya tidak kaget ketika Gabriel menerima tawaran beasiswa ke Abu Dhabi. Saat itu umurnya 12 tahun di kelas 5 SD. Saat itu Gabriel terdaftar sebagai pelajar kelas 1 SMP Peradaban Kota Serang. Berarti turun kelas 2 tahun. Saya tidak tahu bagaimana masa depan Gabriel selanjutnya. Apakah akan ada sesuatu yang buruk tejadi kepadanya?

Saya tentu mendoakan yang baik-baik untuknya. Tapi garis takdirnya ada di tangan Allah SWT. Itu sebab saya selalu meminta kepada Allah SWT, agar Gabriel memiliki masa depan yang cerah. Kadang saya menyesal, karena tidak pernah berada di sisinya saat melewati masa pubertas, masa remaja yang penuh gejolak.


Kami melepas Gabriel sendiriran ke Abu Dhabi. Jordy, saat itu 7 tahun, menangis melepas kakaknya. Kadang saya menyesal memisahkan mereka. Tapi, saya tidak boleh kembali ke masa lalu. Saya harus menata masa depan kedua anak lelaki saya, bersama ibu mereka. Saat itu Jordy ingin memiliki pabrik sepatu dan kuliah di Jerman sambil jadi pelatih badminton. Tapi kini, mulai 2022, Jordy justru kuliah di Akademi Film Yogyakarta. Biarkan saja mereka bermimpi setinggi langit.


Gabriel sudah menemukan jalan menuju masa depannya. Musik rap jadi pelengkap hidupnya. Sudah 2 album CD musik diluncurkan. Sepuluh tahun ditempa di Abu Dhabi menjadikannya mandiri. Kakaknya yang perempuan – Nabila Nurkhalisah sudah 2 tahun kuliah beasiswa di Sun Yat Sen, Ghuangzhou. Si Bungsu – Natasha Azka di kelas 3 SMP, bercita-cita kuliah di Korea.


Kepada Gabril dan Jordy – mereka sebagai anak lelaki, saya tekankan bahwa literasi keluarga dimulai dari anak laki-laki. Mereka harus menjaga martabat keluarga, menjaga ibu dan saudara perempuan mereka.


Semoga Allah SWT selalu melindungimu, Nak. Berbuat baiklah agar kebaikan selalu berada di sekeliingmu. Bertemanlah dengan orang-orang baik, agar hidupmu di jalan yang penuh keberkahan. Jika kamu berbuat salah, meminta maaflah dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Jika kamu berbuat baik, rendah hatilah. Manusia tidak sempurna. Tapi berjanjilah untuk selalu memperbaiki diri setiap saat.
*) Ambon, Maluku 21 Juli 2022


