Walaupun tidak menganggap batik sebagai sesuatu istimewa, aku tetap mengapresiasi kekayaan ide setiap lembarnya. Baik itu motif yang bercerita atau berpola statis, semua punya ide yang layak diacungi jempol kebanggaan.

Kenapa aku bilang menganggap batik biasa saja, karena dari kecil aku sudah biasa mengenakan batik, dari bayi bahkan dililit kain batik sebagai ‘bedhong’, dan digendong dengan selendang batik. Mbah Ibu, demikian aku memanggil nenekku dari pihak Ibu, rajin menjahit kain-kain perca batik, hingga menjadi baju, tas, taplak, seprei, sarung bantal-guling. Bahkan bantal penghangat teko pun dibuat dari perca batik.

Mbah Ibu tekun menggunting perca sesuai pola segitiga dari kardus. Dikumpulkannya potongan kain itu sampai sekantung kresek penuh. Saat luang waktu, setiap dua lembarnya dijahit, begitu terus sampai habis. Kemudian setiap dua lembar jahitan itu disatukan, begitu terus sampai semua terangkai, jadilah seprei besar, atau selimut, atau bisa jadi gorden. Bahkan lap dapur dan cempal untuk mengangkat panci panas pun dibuat khusus dari perca batik. Berasa mevvah-lah masa kecilku.

Untuk baju, biasanya ibuku memotong kain polos dulu sesuai pola, lalu nenekku menambahi dengan aplikasi perca batik. Sebuah kolaborasi yang apik, menghasilkan baju cantik. Aku sangat menghargai hasil kerja Ibu dan nenekku. Maka ketika ada teman yang mengejek bajuku sebagai ‘gombal mukiyo’, aku berani melemparinya dengan batu kecil. Wkwkwk. Ketika dia marah aku balik menatapnya dengan kemarahan lebih besar karena kuanggap ia telah menghina Ibu dan nenekku.

Untunglah dia luluh dan tidak jadi membalas. Kalau ia membalas, mungkin aku kalah juga ngadepin cowok badan gede gitu.
Tenang, gais, aku sudah tidak se-temperamental itu sekarang. Udah tobat, marah cuma ngabisin tenaga. Mending menjahit kain-kain batik hubby buat kostum manggung beliau atau bikin pottery batik kayak di foto.


