Mama, Aku, dan Si Kembar

Kini Reyna menangis, memegangi tangan Mama yang bengkak. “Kamu sudah siapkan kuburan buat Mama? Berapa biayanya? Kamu sudah hubungi Pak RT kan?” isaknya.

Aku menggeleng. “Mama belum mati. Dan Mama jangan mati,” aku menatap wajah Mama yang seperti awan mau hujan.

“Bukannya kamu happy kalau Mama dipanggil Tuhan? Kamu bisa pergi ke mana saja kamu suka?”

Kedua mataku hendak melompat.  “Bagaimana nanti Desi dan Dina? Aku masih butuh uang pensiun Mama dan Papa!”

“Si kembar bisa aku urus! Warisan kita bagi tiga saja! Ferry setuju usul kakak!”

Sejak kematian Anita karena pendarahan  akibat melahirkan si kembar, aku keluar dari pekerjaan sebagai tim IT di pabrik kertas. Itu lima tahun lalu. Rumah dan mobil aku jual.

Aku jadi benalu.  Tapi  Mama butuh teman dan hiburan. Pekerjaanku melayani mereka. Kubuatkan mereka sarapan. Kumandikan Mama yang duduk di kursi roda bersama si kembar di halaman belakang. Aku gunakan slang. Kubuatkan hujan buat mereka.

Hari ini Mama kritis. Beberapa kali tidak sadarkan diri I tempat tidur dimana Papa pergi lebih dulu 7 tahun lalu. Aku mau membawa Mama ke rumah sakit, tapi kata perawat yang setiap hari datang mengobati luka di pantat dan punggung Mama, “Tidak perlu. Kedua tangan Mama bengkak, tidak bisa diinfus.”

Diabetes Mama stadium tiga. Reyna menyalahkan aku karena menganggap memberi Mama makan nasi saja. Mama kurang nutrisi. Tapi dia tidak pernah menanyakan kesehatanku.

Adik kami – Ferry datang membawa mobil. Dia satu kota denganku – tinggal di rumah sekaligus tempatnya bekerja sebagai pemilik salon. Selulus SMK mengikuti kursus kecantikan. Tebakanku, dia tidak akan menikah dengan Luna atau Tatum. Mungkin dia akan menikah dengan Ivan atau Syaiful.

“Kita harus cepat-cepat hubungi Pak RT untuk mengurusi makam Mama. Dikubur di sebelah Papa saja. Aku sih ok usul Kakak Reyna. Warisan kita bagi tiga. Aku lagi butuh biaya untuk pengembangan salon.”

Barangkali apa yang diusulkan Reyna dan Ferry betul. Mama segera mati saja dan warisan dibagi tiga. Aku akan memilih rumah ini. Menikah lagi dan melamar pekerjaan. Tapi mereka tidak pernah tahu, jika 5 tahun merawat Mama, Dina, dan Desi membuat tubuhku lebih rentan dari Mama dan mudah terkena penyakit.

Seperti hari ini. Tidak ada lagi yang mesti ditunggu. Untuk yang terakhir kali,  Reyna dan Ferry berteriak menangisi tubuhku.

“Bagaimana nanti Mama dan si kembar?”

“Usul Ferry sih, kirim Mama ke panti jompo! Kirim juga si kembar ke panti asuhan!”

Aku tidak peduli- itu terserah yang hidup. Sementara Desi dan Dina tersenyum dan melambaikan tangan kepadaku. Kemudian gelap.

####

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==