Dalam cerpen ini kita diajak Toto ST Radik memasuki Kota S di Provinsi B. Saya kira inisial huruf “S” dan “B” bukan Semarang dan Batam, melainkan mungkin saja Serang dan Banten sebagai tempat penulisnya bermastautin. Meskipun sebagai cerpen, sahsah saja jika kita interpretasikan sebagai kota dan provinsi lain.

Dikisahkan, tiba-tiba pemerintahan kota S dibuat paciweuh oleh wabah ganjil, dimana banyak masyarakat yang giginya tiba-tiba bertanggalan tanpa sebab yang jelas. Wabah ini menyerang bukan saja kepada para lansia, tetapi kepada hampir semua orang—lintas profesi—yang punya gigi di kota S.
Memang diceritakan tak menimbulkan rasa sakit bahkan tanpa meneteskan darah sedikitpun. Namun, hal ini tak ayal menimbulkan keheranan dan ketidakpercayaan diri masyarakat sehingga diliputi rasa cemas dan penasaran; mungkinkah wabah ini suatu tulah atau kutukan.

Setiap hari petugas kesehatan kewalahan menangani puluhan pasien yang gigi-giginya bertanggalan dengan bayaran tak setimpal, maklum dalam kondisi darurat. Petugas kesehatan telah mengundang kota-kota lain di provinsi B untuk memberikan bantuan. Namun wabah ompong tak kunjung hilang, malah kian mengkhawatirkan. Bahkan petugas kesehatan pun mengalami nasib serupa. Secara tiba-tiba, bangun tidur gigigigi mereka mruluk berjatuhan.

Semua orang berbagai profesi dan tingkatan sosial bersama para wartawan (yang belum terkena wabah ompong) akhirnya berjubel berkerumun di gubernuran tak sabar menanti kebijakan gubernur yang tengah mengadakan rapat terbatas membahas wabah ompong bersama jajarannya dijaga ketat aparat kepolisian. Gubernurlah harapan terakhir mereka. Hingga menjelang magrib gubernur baru ke luar dari ruangannya, ia menyapa warga dengan senyum berwibawa.

Masyarakat harap-harap cemas, bertanya-tanya apa kira-kira yang akan menjadi keputusan gubernur. Akhirnya melalui pengeras suara, gubernur memberi pernyataan agar warga nerima dan sabar atas musibah yang dialami bersama. Ia pun mengaku juga kena wabah ompong hanya saja telah memakai gigi palsu terbuat dari emas 24 karat. Ia pun menjanjikan semua orang akan diberikan gigi palsu terbuat dari emas 24 karat sejumlah giginya yang tanggal.

Untuk menghibur masyarakat, saat itu juga gubernur mengajak masyarakat melupakan wabah gigi ompong dengan berjoget bersama sambil menyanyinya lirik lagu goyang dombret kesukaannya. Mendengar gubernur bakal mengganti semua gigi warga yang tanggal, para wartawan yang belum ompong pun akhirnya sibuk mencopoti gigigiginya masingmasing yang mulai goclek “Lumayan dapat emas dua puluh empat karat. Soal berita mah, gampang!” (hal:17).
Bagi saya, ini kisah sederhana yang menohok kesadaran. “Ompong” adalah simbol yang dengan cerdas dipakai Toto ST Radik untuk mengkritisi keadaan. Betapa kita sudah kehilangan “gigi” sebagai bagian penting penyelengaraan kehidupan. Bukankah harimau dan singa yang ompong akan kehilangan daya keharimauan dan wibawa kesingaannya. Bukankah kakek-nenek yang semua giginya telah bertanggalan, pertanda sebentar lagi dijemput ajal. Bukankah demi perawatan gigi orang rela mengeluarkan begitu banyak uang.

Malangnya, karena ompongnya berjamaah akhirnya masyarakat menjadi terbiasa menerima keompongan. Ompong tak lagi menyakitkan dan memalukan, ditambah perlakuan “gubernur” sebagai simbol kuasa pemerintahan justru memanjakan masyarakat yang ompong dengan iming-iming materiil emas 24 karat (simbol materialisme)—menambali kebusukan dan kerusakan dengan kekuatan modal. Bahkan wartawan, satusatunya yang diharapkan berdiri gagah di garda terdepan membela kebenaran pun, tunduk pasrah pada dominasi dan kekuatan materialisme.
Jika sudah demikian. Maka, akan hancur binasalah pemimpin dan masyarakatnya. Kita akan kaya dalam kemiskinan. Mewah dalam kekumuhan. Harum dalam kebusukan. Betapa akhir-akhir ini manusia dengan serius membaiat diri tanpa sadar menganut agama materialisme. Semua hal mesti dikaithubungkan dengan materi. Mau bersedekah, lantaran iming-iming kembali berkali lipat. Mau shalat sunah tahajud, lantaran membayangkan kedudukan tinggi di dunia. Semua bagian ritual agama pun, kini dikemas, dijual, diseminarkan, untuk dimaterikan.

Barangkali Anda yang kebetulan membaca esai ini sebaiknya membaca langsung buku kumpulan cerpen yang ditulis begitu apik oleh Toto ST Radik sebagai bahan renungan mensyukuri hari jadi Kota Serang ke-15. Semoga apa yang diceritakan Toto ST Radik hanya dongeng dan subtansinya tak pernah mewujud menjadi kenyataan, dan Kota Serang Madani tak hanya jadi slogan. Semoga! *


