Tidak jauh dengan apa yang dilakukan oleh ibu, setelah saya berkeluarga, suatu hari saya juga mengajak makan istri di KFC Cilegon. Istri mengeluarkan nasi dari dalam tas. “Di sini beli ayam dan beli minimumnya aja. Bisa menghemat?” katanya.
Apa yang dilakukan ibu dan istri, ketika berpergian membawa bekal makanan tidak sepenuhnya saya setujui. Ketika saya kecil tak bisa memprotes apa yang dilakukan oleh ibu. Tapi, ketika istri membawa nasi ke KFC, saya langsung protes dan langsung mengatakan masukan lagi. “Tak bagus kita makan di sini, tapi kita bawa makanan dari luar. Sudah kita beli di sini saja.”

Istri langsung memasukan nasi ke dalam tas, dan saya berjalan untuk memesan makanan ke kasir. Entahlah, sikap seperti ini menjadi prinsip dalam hidup saya. Jika saya datang ke sebuah tempat sebisa mungkin memakmurkan tempat tersebut. Untuk itu, jika saya akan pergi ke kedai/cafe pasti membawa uang lebih. Takut-takutnya di tempat tersebut bertemu teman dan akan lebih asyik jika saya mentraktirnya.
Sifat saya ini bisa jadi terbentuk karena di latar belakangi peristiwa sewaktu SMA. Waktu itu, saya jualan buku puisi di sekolah. Harga buku itu hanya Rp5000 dan Rp10.000 rupiah. Saya tawarkan ke guru-guru, ke kepala sekolah, tapi semuanya menolak untuk membeli dengan beragam alasan.

“Buat anak bapak siapa tahu senang puisi, Pak?” saya merajuk. “Anak saya juga nggak senang puisi,” katanya. Pelan-pelan kepala sekolah dan guru-guru pergi, saya ditinggalkan dengan buku tergeletak di atas meja kantor.
Sejak saat itu, saya mengikrarkan diri jika saya jika memiliki kemampuan rezeki, saya ingin membantu teman-teman, atau orang lain yang sedang merintis atau membangun usaha. Maka, ketika suatu hari di kampus Untirta saya keluar dari kelas dan tiba-tiba seorang mahasiswi menawarkan slayer baduy, saya ingat dengan kejadian waktu di sekolah dulu.

“Berapa, Teh?”
“Rp25.000.”
Tak panjang lebar langsung saya beli. Walaupun teman di sebelah bilang, “Lam itu harga aslinya Rp15.000. Banyak di Pasar Lama juga.”


