Kami bertiga masih menetap di Swiss-Belhotel Kota Ambon, Provinsi Maluku, satu kamar dengan extra bed nomor 801, lantai 8. Setelah sarapan di sana, kami dijemput Pak Ronald dengan mobil operasional DPK Provinsi Maluku untuk melaksanakan kegiatan literasi di titik pertama pada Kamis (21/07/2022).

Mas Gong memulai menerangkan tentang tiga jenis bahan yang dihasilkan dari dus bekas. Di antaranya: Misteri Harta Karun, Alat Peraga Dongeng, dan Buku Cerita Bergambar kepada para peserta yang terdiri dari guru-guru PAUD, TK hingga para staff DPK Provinsi Maluku. Sepeti biasa, aku juga membacakan puisi “Hujan” karya sendiri yang kebetulan saat itu sedang turun hujan. Suasana pelatihan pun menjadi semakin berwarna.

Ketika Mas Gong menjelaskan tentang Buku Cerita Bergambar, ia menyarankan untuk membuat maskot. Contohnya; Si Beki – Bebek Kinclong. Dalam sesi ini, pendongeng hanya diharuskan membaca tekt dalam buku cerita tersebut dan tidak harus menceritakan lebih lengkap. Seperti dalam cerita Si Beki; Si Beki Main Lumpur, Si Beki Makan Kue, Si Beki Sakit Perut, Si Beki Pergi ke Dokter, Si Beki Sehat. Pesannya adalah sebelum makan harus mencuci tangan agar tidak sakit perut.

Acara selesai siang hari, setelah para-peserta maju serta memberikan presentasi dari hasil pelatihannya. Aku meperhatikan hasil mereka yang beraneka ragam cerita dengan dibalut warna-warni. Aku mendengarkan satu persatu presentasi dari mereka. Seketika ruangan pelatihan berubah seperti ruangan taman kanak-kanak.

Usai bersenang-senang dengan para peserta Pelatihan Membuat Alat Peraga Literasi, kami diajak panitia untuk menikmati durian Maluku. Kami kembali naik mobil operasional DPK Provinsi Maluku dan berhenti di pinggiran jalan Desa Wayame. Di sana, banyak penjual durian dengan harga Rp. 100.000 per-tiga buahnya. Akhirnya kami menyantapnya dengan nikmat. Menurutku, durian di sini hampir mirip dengan durian di Serang; warna buahnya kuning dan rasanya manis tapi durian Maluku memiliki isi yang lebih banyak. Sedaaaap.

Kami lanjut bergerak menuju titik kedua yaitu TBM Gandaria Duskar di Dusun Kranjang, Desa Wayame, Kecamatan Teluk Ambon. Di sana Mas Gong mendongeng tentang anak laki-laki yang kehilangan tangan kirinya kepada anak-anak yang ternyata anak laki-laki tersebut adalah Gol A Gong. Selain mendongeng, Mas Gong juga memberikan motivasi bahwa dengan membaca buku dan menulis, hidupnya bisa berdaya hingga bisa menjadi Duta Baca Indonesia.

Nasir La faris, Kelas 5 SD Alhilal V Kranjang bertanya kepada Mas Gong; kenapa orang hebat suka membaca? Kemudian ia menjawab, karena orang-orang hebat tau bahwa di dalam buku-buku terdapat banyak harta karun; banyak ilmu pengetahuan. Acara ini juga dihadiri oleh Walroni, Ibu Kades, dan Kusmirah, Ketua RT.019.

Sahrul Rahmat, Ketua TBM Gandaria Duskar mengatakan rasa terima kasih atas kedatangan rombongan Duta Baca Indonesia. Ia menceritakan bahwa TBM-nya telah mendapat bantuan dari PT. Pertamina yang memiliki beberapa fasilitas seperti mesin fotocopy, seperangkat komputer, dan ratusan jumlah buku bacaan. Hasil keuntungan dari mesin fotocopy digunakan untuk biaya operasional TBM.

Setelah selesai kegiatan, kami melanjutkan perjalanan menuju Rumah Pintar Hasoma Negeri Hatu, Kecamatan Leihitu Barat, Kabupaten Maluku Tengah. Kami disambut dengan tarian tifa yang dimainkan oleh anak-anak.

Kemudian, kami menyaksikan penampilan anak-anak menyanyi lagu-lagu daerah Maluku. Aku memberikan apresiasi kepada mereka saat menyanyikan lagu Generasi Internet dengan menggunakan peralatan sederhana, seperti: botol beling yang diisi air, botol kaleng, sampai alat-alat dari bahan batu. Sangat wajar, jika Maluku dijuluki sebagai The City of Music. Luar biasa.

Ada satu lagu yang masih melekat di benakku saat melihat anak-anak bernyanyi bersama yaitu:
Pompa, pompa, pompa sepeda
Menyapu, menyapu, menyapu halaman
Buah kedondong, buah kenari
Tete main kroncong, nenek menari.
Di sana, Mas Gong mendongeng dan memberikan cerita sukses dirinya kepada anak-anak. Menurutnya, dengan kegiatan membaca, dan berolah raga bisa membuat dirinya lupa bahwa ia berlengan satu. Dua kegiatan tersebut dapat menjadikan tubuh dan otaknya sehat.


Aku berhasil mencoba salah satu kuliner yang disediakan di sana. Yaitu Nasi Pulut Unti Kelapa. Rasanya menurutku; manis – perpaduan antara nasi ketan dan toping-nya. Aku suka, makan tiga Nasi Pulut Unti bisa membuat perut menjadi kenyang. Hehe.

Menjelang malam, kami melanjutkan perjalanan menuju Kopi Dolo untuk bertemu dengan Eko Saputra Poceratu. Di sana, kami berjumpa juga dengan Marthen Reasoa, Ketua Bengkel Sastra Maluku. Sambil makan malam, kami mendikusikan gerakan literasi kolaborasi antara komunitas literasi dengan instansi pemerintah.

Akhirnya, kami harus beristirahat setelah seharian berkegiatan. Sekitar pukul 22.00 WIT kami meluncur ke hotel. Aku merapihkan hasil angket dan daftar hadir yang telah disebar hari ini di tiga titik kegiatan. Aku ingin tutup ceritaku ini dengan sebuah kutipan dari Presiden Amerika Serikat yang ke-31; Herbert Clark Hoover bahwa children are our most valuable resource. *
Anyar, 27 Juli 2022
Djoe Taufik


