Mereka ingin betul-betul percaya, bahwa membaca dan menulis bisa membuat orang sukses dan sejahtera tanpa perlu meninggalkan profesi utamanya. Ya, kamu bisa jadi penulis dan tetap sebagai guru, dosen, insinyur, dewan, ASN, pelajar, mahasiwa, bahkan ibu rumah tangga. Keren ya.



Saya juga mengingatkan, bahwa menulis itu bukan pekerjaan melamun. Menulis itu pekerjaan intelektual dan sama terhormat seperti guru, dosen, profesor, insinyur, anggota dewan, kepala daerah.


Hal ini sejalan dengan visi-misi Perpusnas RI. Dalam rangka mendukung penguatan budaya literasi, Perpustakaan Nasional merumuskan 5 tingkatan literasi yang harus dimiliki seluruh masyarakat Indonesia, yaitu:


1.Memiliki kemampuan baca, tulis, hitung, sains, dan pembentukan karakter anak bangsa.
2.Akses bahan bacaan terjangkau, akurat, terkini, lengkap dan terpercaya dengan minimal 10 sumber / mesin pencari ilmu pengetahuan terbaru.
3.Memahami makna tersirat dari yang tersurat.
4.Memiliki mental yang kuat, karakter yang tangguh, inovatif, dan kreatif sebagai antisipasi terhadap perkembangan teknologi informasi dan perubahan yang cepat.
5.Memiliki ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dapat diimplementasikan untuk menciptakan barang/jasa yang dapat digunakan dalam kompetensi global.


Berdasarkan 5 tingkatan literasi tersebut, saat ini masyarakat Indonesia menghadapi tantangan pada tingkatan literasi yang ke-2. Masyarakat Indonesia masih memiliki akses yang terbatas kepada bahan bacaan. Menurut UNESCO angka ideal terhadap akses bahan bacaan adalah satu orang mengakses 3 buku per tahun. Sedang kondisi di Indonesia rasio ketersediaan buku dengan jumlah masyarakat adalah 1 buku dibaca oleh 90 orang (Kajian IPLM Perpustakaan Nasional RI, 2020).



