Luzen masih ingat, saat itu, ia utarakan ide untuk menggalang dana pembelian perabah kematian usai tahlilan di rumahnya, ketika masyarakat Kampung Dadap sedang berkumpul. Termasuk juga pemudanya.
“Alhamdulillah ide saya itu akhirnya disetujui masyarakat. Termasuk RT, ketua pemuda dan tokoh masyarakat. Setelah itu baru saya menggerakan pemuda untuk bergerak mencari dana. Karena dulu itu di sini belum punya apa-apa untuk perabah kematian,” cerita Luzen, kepad wartawan, Rabu (27/7/2022).

Dalam hal menggerakan pemuda untuk sama-sama bergerak menggalang dana, bagi Luzen itu soal mudah. Pasalnya hampir setiap hari hingga malam, para pemuda selalu berkumpul di warung milik Luzen. Sehingga setiap hari Luzen berinteraksi dengan pemuda. Di warung Luzen selain menyediakan aneka cemilan, kopi, es teh dan gorengan juga ada wifi. Untuk yang ingin menggunakan fasilitas wifi per harinya dikenakan tarif Rp.3000,- saja.

“Jadi tiap hari sampai malam pemuda selalu kumpul di warung saya. Di sini enggak jual minuman keras. Dan enggak ada yang mabok-mabokan. Mareka sambil wifian, kadang juga main gitar sambil ngopi. Itu saja,” paparnya.

Cara penggalangan dana akhirnya disepakati iuran dari masyarakat, membuat proposal dan menaruh 7 kotal amal musolah di warung-warung sekitar.
“Saya cuma menggerakan para muda. Waktu itu alhamdulilah dapat sumbangan dana dari SPBU yang ada di Dadap nyumbang dana Rp.1.500.000,- Sisanya dari sumbangan warga yang diambil setiap seminggu sekali selama satu tahun. Kalau dari warga seikhlasnya. Tidak dipatok. Dan yang keliling cari dana, ya pemuda,” jelas ayah empat anak ini.

Setelah satu tahun berjalan, Luzen menjelaskan kini masyarakat Dadap sudah memiliki perabah kematian mulai dari terpal, tempat mandi, bak ember, keranda, pacul, linggis, selang, kursi plastik 50 buah dan juga tenda ukuran 3×6 meter. “Jadi sekarang masyarakat Dadap tidak perlu pinjam perabah ke tetangg kampung lagi. Untuk terpal disimpan di gudang belakang rumah saya karena di musolah belum ada gudang. Kalau bangku ada di musolah,” jelasnya.

Saat ditanya bagaimana dengan suport dari lurah untuk perbah ini? Luzen mengatakan dari lurah tidak ada. “Pemuda pernah dua kali mendatangi lurah, lalu ketigakalinya dengan saya. Alhamdulillah dari lurah ga dikasih. Jadi untuk perabah ini ga ada bantuan dari lurah,” papar Luzen.

Luzen menjelaskan, saat ini perbah kematian sudah banyak dimanfaatkan warga. Luzen sangat berterima kasih kepada semua donatur dan juga para pemuda yang sudah mau bergerak bersana. Untuk tenda, sering juga dipinjam warga jika sedang ada acara hajatan. Biasanya dari warga ada yang menyumbangkan uangnya. Lantas uang sumbangan dari warga itu, dimasukan untuk kas musolah.
“Rencana ke depan masyarakat ingin punya amben buat ngaji di makam. Dan meja buat di makam. Kalau masyarakat udah punya kan enak, jadi enggak pinjam ke orang lain lagi,” harapnya.

Ditemui di tempat yang sama, salah satu pemuda Kampung Dadap, Heri Setiawan (21), sosok Luzen tipe orang yang merangkul pemuda. Sering kali juga para pemuda melakukan rapat agustusan atau acara peringatan maulid nabi dilaksakana di rumah Luzen.
“Mang Luzen orangnya asyik. Dia juga tak jarang sering turun ke jalan. Sedikitnya ada 30 pemuda yang gerak. Jadi untuk pengumpulan dana dari warga, kita gantian. Saya sendiri melakukannya dengan ikhlas, karena memang ini kebutuhannya untuk masyarakat. Untuk bersama,” pungkas Heri. *




Keren
Sangat meng inspirasi