Makanan khas ini berbahan baku sagu, yang dicampur air panas, lalu diaduk hingga mengental. Teksturnya kemudian berubah menjadi lembut tapi kenyal seperti lem tepung terigu. Warnanya putih transparan. Papeda bagi orang timur bukan lagi menjadi makanan khas, tapi makanan pokok.

“Orang sini sudah bisa makan siang dengan papeda,” kata Ibu Feby, Bidang Perencanaan DPK Maluku.
Di warung makan sederhana dengan dinding papan yang dicat warna hijau, saat duduk kami disajikan sepiring kuah kuning. Tanpa apapun, hanya kuah saja. Lalu dari tempat lain, Mama Ciko, pemilik warung membawa satu bale (porsi) papeda dengan cara memutar-mutarnya di udara menggunakan gata-gata, dengan satu tangan. Bagiku atraksi Mama Ciko adalah bagian dari hiburan untuk para pembeli.

Satu persatu papeda ditenggelamkan ke piring yang sudah diisi kuah kuning. Aku sudah mulai ngiler. Air liur di mulutku sudah banjir.

Aku beberapa kali pernah melihat cara makannya di YouTube. Ada dengan sumpit yang diputar, sendok, bahkan ada yang langsung di seruput ke piringnya.
Papeda untukku datang. Mama Ciko datang menghampiri piring kuah kuningku. Aku langsung menyendoknya, lalu menyeruputnya, tapi tidak sepanjang orang-orang. Rasanya tawar. Tapi jika dicampur kuah kuning, rasa gurih memenuhi rongg mulut. Tiada kata selain enak!

Makan siang yang sangat berkesan. Aku langsung menghabiskannya dengan ikannya yang sama sekali tidak amis. Ikan kuah kuningnya lezat banget!. Oh ya, harga satu bale papeda Rp.2000, belum termasuk ikan kuah kuningnya.
Menikmati kuliner khas daerah, seperti papeda dan kuah ikan kuning membuat saya semakin bersyukur tinggal di Indonesia yang kaya akan beragam makanan khas daerahnya. *




