Oleh Rudi Rustiadi
Pagi ini menemani relawan Rumah Dunia, Fazri dan Naufal Nabilludin menyapu halman Komunitas Rumah Dunia. Rasa-rasanya sudah lama sekali tidak melakukan rutinitas setiap minggu ini. Dulu sebelum berumah tangga hampir setiap minggu rutin ikut sekadar menemani relawan membersihkan Rumah Dunia. Barangkali ini sudah 1 tahun.
Menyapu di rumah sendiri dan di Rumah Dunia berbeda. Ada magis di gagang sapu Rumah Dunia, yang tidak bisa saya gambarkan. Pokoknya Setiap ayunannya terasa ringan, juga ada energi positif yang mengalir. Pagi ini saja tak terasa 1 jam kami menyapu. Lalu-lalang informasi dan wawasan berseliweran dari 2 relawan Rumah Dunia yang bertahan sampai saat ini–Rumah Dunia memang sedang krisis relawan.

Seperti biasa. Saya banyak mendengar. Seperti dulu ketika saya pertama kali menginjakkan kaki di Rumah Dunia tahun 2014. Saya suka mendengarkan relawan bercerita relawan senior. Hari ini pun begitu saya mendengarkan banyak cerita dari relawan junior saya di Rumah Dunia.
Naufal bercerita tentang kegiatannya menjadi relawan di Sembalun 2025 nanti, lalu mengajari saya AI, membahas golagongkreatif dot com, dll. Fazri menginformasikan kegiatannya di sekolah yang akan menghadapi ujian.

Balik lagi soal menyapu. Kalau ditanya kenapa mau menyapu di Rumah Dunia? Jawabannya tentu karena saya banyak mengambil manfaat dari Rumah Dunia. Jadi ketika saya memberi apa yang saya bisa, energi positif yang entah dari mana, seperti saling mengikat antara saya dan Rumah Dunia–barangki itu yang disebut berkah. Saya sadar apa yang saya dapat dari Rumah Dunia, tidak akan pernah bisa saya kembalikan dengan hanya hal sepele seperti penyapu.

Kedua, seperti halnya menulis, ketika menyapu di Rumah Dunia, saya tidak sekadar menyapu. Saya belajar memperhatikan dan melihat detail. Menyapu dan menulis menurut saya memliki kesamaan, sama-sama harus memperhatikan detail.
Seperti biasa. Kegiatan rutin menyapu Rumah Dunia ditutup dengan makan-makan. Fazri bertanya kepada saya dan Naufal, mau makan apa? Dia juga mengajukan beberapa opsi makan. Saya bilang relawan di Ramah Dunia silih berganti, datang dan pergi, saya selalu beradaptasi dengan relawan. Apa yang mereka makan saja juga makan. Saya bilang sekarang saya juga begitu.

Singkat cerita Fazri datang setelah membeli makanan. Ketika saya buka, makanan kami berbeda. Hmmm….
Buat teman-teman yang mau merasakan magis gagang sapu Rumah Dunia, datang saja ke Rumah Dunia. Coba pegang sapunya. Kalau urusan nyapu biarkan relawan. Hehehe.
Oke. Sehat-sehat semuanya!
Rudi Rustiadi
Presiden Rumah Dunia 2025-2030



