“Dengarkan, ya. Saya akan bercerita, kenapa saya dibebaskan.”
“Jangan bertele-tele, Orakadut!”
“Begini ceritanya.”
“Cepetan, deadline, nih!”
“Lu diem, kenapa!”
“Bacot lu, tuh!”
Kedua wartawan itu saling baku-hantam. Para wartawan melerai. Kemudian kedua orang itu diserahkan ke Polsek, karena tidak memiliki kartu identitas sebagai wartawan.


“Sebelum saya teruskan ceritanya, saya minta semua wartawan yang hadir menunjukkan kartu pers-nya!”
Orakadut tersenyum puas, karena semua wartawan menunjukkan kartu persnya. Ada yang dari media mainstream, online, juga televisi.

“Baiklah, saya mulai,” Orakadut menyalakan geretan dan merokok.
“Huuuuu! Endors, nih!”
“Di TV aku nggak bisa nampilin rokok!”
Orakadut memang mengendors sebuah merek rokok ternama. Dia tersenyum, “Oh, ya. Nanti semua yang hadir dapat goodie bag, ya. Jangan kuatir, ada amplopnya juga. Bagi-bagi rezeki. Anggap saja hadiah, bukan gratifikasi.”
“Nah, ini baru keren!”

“Cepetan, Orakadut! Jangan banyak iklan!”
“Begini. Kemarin ada tim datang ke sel. Entah tim dari mana. Katanya tim riset terpercaya utusan pemerintah.”
“Mau ngapain?”
“Main basket!”
“Ya, pasti mewawancarai napi, dong! Gimana, sih? Jadi wartawan, kok, pertanyaannya bego gitu!”

Si wartawan garuk-garuk kepala, “Gue bego, ya?”
“Oke, lanjut, ya. Begini. Tim itu mewawancarai semua napi di dalam sel. Terutama para napi koruptor. Saya kebagian wawancara terakhir. Saya sudah mendengar bisik-bisik, bahwa semua napi, termasuk napi koruptor, berhasil menjawab semua pertanyaan tim. Dan jawabannya benar semua.”
“Pasti ada jokinya!”


