Ada juga yang bilang bahwa semua pedagang yang ada di Kampung Inggris jago berbahasa Inggris. Tentu, tidak semuanya. Bahkan ini bisa disebut sebagian kecil saja. Tidak semuanya.
Cerita menariknya saya dapatkan saat mewawancarai Ikhwan pria berumur 59 tahun. Dia merupakan pribumi asli yang lahir dan besar di Kampung Inggris.

Saat pertama kali ada tempat kursus yang digagas oleh Mr. Khaled Osein pada 15 Juli 1977— yaitu BEC (Basic English Course) dari tahun ke tahun, orang yang berdomisili di Pare—digratiskan untuk belajar.
Namun, yang terjadi faktanya adalah. Hampir sebagian besar justru tidak menaruh minat anak-anaknya untuk kursus gratis. Orang tua yang ada di Pare, lebih senang anaknya pesantren dan menguasai baca Arab pegon.

“Anak saya juga yang kemarin baru lulus di IPB, baru menyadari kalau bahasa Inggris itu penting. Baru sekarang dia belajar di BEC,” kata Ikhwan.
Namun, seiring berjalannya waktu, orang-orang atau yang berdagang saja di Kampung Inggris sedikit demi sedikit mulai belajar bahasa—walaupun yang dikuasainya terbatas pada bahasa dagang.

Tidak menjadi soal untuk itu. Lagi pula, para pedagang tidak lancar bahasa Inggris karena setiap siswa yang belajar belum juga lancar sudah pulang ke kampung halaman dan berganti dengan siswa baru yang tidak bisa bicara Inggris. Barangkali itu.*



