Dengan semangat menggebu, Joker pun segera mencari referensi tentang Syeikh Nawawi terutama biografinya. Namun nihil, di beberapa perpustakaan yang dikunjunginya kebanyakan hanya terdapat kitab-kitab terjemahan karya Syeikh Nawawi, hampir tak ditemukan buku biografinya secara utuh. Kalau pun ada, hanya biografi singkat satu bab di awal buku.

Joker pun googling file dalam bentuk pdf dan mendapati beberapa skripsi dan tesis yang menyoroti fokus pembahasan terhadap salahsatu kitab karangan Syeikh Nawawi. Joker mengandaikan alangkah sedapnya jika ada penulis yang mau bersusah payah melakukan riset untuk menovelkan prikehidupan sang Syeikh yang mendapat gelar kehormatan sebagai Sayyid Ulama al-Hijaz (Pemimpin Ulama Mekah-Madinah). Mungkin tugasnya Akmal Nasery Basral yang dengan piawai pernah menovelkan kehidupan Buya Hamka dalam novelnya Taddarus Cinta Buya Pujangga.

Menelusuri jejak Syeikh Nawawi al-Bantani (yang jika dirunut ke belakang masih keturunan Sultan Maulana Hasanuddin Banten), pikiran Joker tertambat pada tiga hal.
Pertama, mengenai semangat sang Syeikh dalam menuntut ilmu sepanjang hayat.
Kedua, kesederhanaan serta sikap keislamannya yang moderat dan toleran.
Ketiga, ketekunan dan produktivitasnya dalam menulis buku (menyusun atau meringkas kitab menjadi materi sederhana sehingga mudah dipahami dan diaplikasikan).

Ketiga hal di atas, Joker rasa sangat relevan dijadikan cermin bagi manusia zaman now terutama bagi para penuntut ilmu. Semangat Syeikh Nawawi yang sudah berangkat ke Mekah pada usia 15 tahun untuk berhaji sekaligus menuntut ilmu mengisyaratkan kuat dan disiplinnya pola pendidikan keluarganya di rumah. Tidak mungkin Syeikh Nawawi direstui kedua orangtuanya berangkat ke tanah suci, jika belum selesai dalam menguasai pelajaran ilmu alat (nahwu, shorof, atau tata bahasa arab) sebagai bekal mengikuti pelajaran dengan pengantar berbahasa arab di tanah suci.

Belajar Sepanjang Hayat
Pertama, semangat Syeikh Nawawi dalam menuntut ilmu sepanjang hayat. Saat joker membandingkan Syeikh Nawawi remaja dengan fenomena remaja zaman now saat usia 15 tahun rasanya sangat miris. Remaja zaman now jangankan semangat menuntut ilmu sebagaimana Syeikh Nawawi, membaca buku saja hampir nol. Kalah dengan hipnotis aneka game online di gadgetnya masing-masing semisal mobile legend, PUBG. Jika tak percaya, tengoklah saat jam-jam istirahat di sekolah-sekolah, rata-rata anak-anak remaja lebih asyik bermain game di gadgetnya masing-masing ketimbang menekuri buku-buku di perpustakaan.

Dari hasil bacaan terhadap beberapa skripsi yang Joker baca, rata-rata menyebutkan bahwa sejak usia 5 tahun Syeikh Nawawi telah belajar ilmu-ilmu dasar agama kepada ayahnya secara langsung (K.H Umar). Usia 15 tahun menunaikan ibadah haji. Setelah 3 tahun di Mekah (berhaji dan belajar), pada usia 18 tahun Syeikh Nawawi kembali ke kampung halamannya di Tanara dan langsung diberi kehormatan untuk mengajar di pondok ayahnya.

Di kampung halamannya, Syeikh Nawawi hanya bertahan 3 tahun, semangat belajarnya yang tinggi membuatnya memutuskan untuk kembali hijrah ke Mekah. Di Mekah itulah sang Syeikh mewakafkan seluruh hidupnya untuk Islam hingga dijemput ajal. Makamnya diberi kehormatan bersebelahan dengan makam Siti Khadijah istri Rasulallah (lih. Kontektualita vol. 30 no. 1, 2015).
Bagi joker, semangat menuntut ilmu yang diteladankan Syeikh Nawawi benar-benar menjadi cambuk (kritik) bagi para penuntut ilmu di zaman now, yang notabene bersekolah, kuliah, hingga menempuh s2, atau s3, sebagian (untuk tidak mengatakan kebanyakan) bukan untuk menuntut ilmu semata, melainkan demi meraih gelar untuk menopang jabatan dan kedudukan sujud-bongkokan pada materialisme. Sehingga tak heran banyak diberitakan dosen hingga rektor yang terjerembab dalam lumpur likat plagiat (duit hayang, belajar kurang).

Sederhana dan Moderat
Kedua, Joker mengagumi kesederhanaan serta sikap moderat Syeikh Nawawi. Keilmuannya yang mumpuni tak membuat Syeikh Nawawi menikmati dan memanfaatkan khidmat dan kekaguman murid-muridnya. Pakaian yang dikenakannya pun biasa saja bukan jubah kehormatan ala ulama arab. Beliau pun tidak lantas memadatkan ide-idenya membentuk organisasi atau mengibarkan bendera formalisme agama semisal tarikat, ormas dan sebagainya, melainkan fokus mengajar dan produktif berkarya, mungkin Syeikh Nawawi khawatir dirinya terperangkap menjadi berhala kultus individu.

Meski begitu, Syeikh Nawawi bukanlah orang saklek. Terbukti bagaimana kedua muridnya sepulangnya dari Mekah sekembalinya ke tanah air justru membuat ormas yang terkesan saling berseberangan; jika K.H. Ahmad Dahlan dengan Muhammadiyahnya berupaya memurnikan ajaran Islam, K. H. Hasyim Asyari dengan bendera Nahdatul Ulama (NU) justru terbuka merentangkan tangan merangkul budaya dan tradisi.

Bagaimana mungkin dua murid satu guru tersebut diizinkan membuat dua organisasi berbeda jika gurunya tidak bijak dan moderat. Oleh karenanya jika anak organisasi Muhammadiyah dan NU berantem lantaran perbedaan pilihan politik Joker kerap melerai dengan berteriak “Satu guru, kok berantem! Malu dong sama Syeikh Nawawi.”
Tak sedikit pula murid-murid Syeikh Nawawi di pelbagai daerah menjadi motor penggerak merekatkan persatuan umat menggelorakan semangat perlawanan atau jihad untuk mengusir para penjajah yang menyengsarakan warga, sebut saja misalnya Kyai Wasyid pada pemberontakan Geger Cilegon 9 juli 1888.

Ini mengisyaratkan bahwa meski Syeikh Nawawi berada di tanah suci, bukan berarti ia abai terhadap situasi dan kondisi Indonesia. Bahkan beberapa pengamat menilai Syeikh Nawawi salah seorang yang memengaruhi dan mengobarkan semangat jihad para Jemaah haji dalam melawan penjajah.
Menurut Joker, jika kita bandingkan sikap Syeikh Nawawi dengan mereka yang mengaku para ulama di zaman now sangat jauh berbeda, yang mendaulat diri sebagai ulama di zaman now banyak yang hidup mewah dan glamor, tak sedikit yang kasak-kusuk merapat ke penguasa atau pengusaha, mengajukan proposal, menjual fatwa dan dalil-dalil agama dengan harga murah untuk tujuan duniawi semata, terutama menjelang pilpres dalam waktu dekat ini.


