Pemberdayaan Perempuan di Kampungku


Memang ujungnya mengarah ke kesejahteraan yang meningkat, salah satunya ditandai dengan perbaikan kondisi keuangan. Namun, perlu juga untuk meningkatkan kapasitas diri dalam kondisi apa pun, tentunya dengan menyesuaikan kemampuan. Misalnya begini, seorang miskin harta tapi ingin belajar. Tidak mungkin dilarang hanya karena dia harus bekerja memenuhi kebutuhan.

Menurutku, dengan dia belajar sesuatu, siapa tahu akan terbuka jalan rezeki sehingga kondisi keuangannya membaik. Sedangkan untuk ibu pekerja luar rumah, barangkali peningkatan kapasitas keilmuannya lebih banyak seputar wilayah pekerjaan.

Sebenarnya isu penting dari dua kondisi itu adalah masalah pengasuhan anak. Kepada siapa dialihkan saat ibu atau kedua orang tuanya bekerja? Bagaimana anak-anak itu melewati hari-harinya? Sementara jika dipikir-pikir bukan hanya sehari dua, jika dihitung akan menjadi ratusan hari.

Ini salah satu yang menjadi kegundahanku hingga minta izin suami untuk menerima kedatangan anak-anak ke rumah di sore hari. Bukan karena di bawah bimbinganku pola pengasuhan akan menjadi lebih baik. Aku malah tidak berpikir ke sana karena itu tanggung jawab orang tua masing-masing.

Aku cuma berpikir waktu yang dijalani anak-anak itu, seandainya ada alternatif kegiatan kreatif, alangkah berwarnanya hari-hari mereka.

Kaitannya dengan pemberdayaan perempuan sendiri, kini anak-anak yang menjadi muridku banyak yang merupakan anak dari muridku di awal aku memulai kegiatan yang menjadi cikal bakal Rumah Dunia. Jadi sekarang aku mengajari level “cucu-cucu”. 😄

Kepada ibu-ibu mereka yang kerap menunggui, sekalian saja kuberi kegiatan kreatif berupa pelatihan keterampilan tangan. Masih level latihan, belum menjadi mata air cuan. Mungkin ke depannya akan aku garap lebih serius bidang ini, insyaallah.

Dari kacamataku ini pun pemberdayaan perempuan, karena sambil menunggui anaknya “les” bersamaku, ibu-ibu bisa berlatih membuat aneka gelang atau bros. Jika sempat, mereka membawa pulang bahan dan mengerjakan di rumah. Hasilnya dapat mereka jual sendiri.

Saat menunggui anaknya pun mereka dapat meniru caraku sebagai bekal mengajari anaknya di rumah. Tidak harus sama sepertiku, sih. Hanya, caraku mengajar memang menyesuaikan kemampuan anak-anak, jadi tidak sama rata. Beban tugas pun kubuat ringan agar anak-anak menikmati “les” setiap sore yang berisi matematika, mengarang, menggambar, dan permainan edukatif.

Berharap ibu-ibu ini menerapkan pola belajar yang menyenangkan bagi anak-anaknya, sehingga terbangun iklim belajar yang efektif. Semangat inilah yang memberdayakan mereka sebagai perempuan, meski indikatornya tidak bisa diukur dengan nominal uang.

Teras belakang rumah, 23 April 2023

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==