Oleh Anas Al Lubab
Seminggu menjelang pemilihan kepala desa, rumahku mendadak ramai tak seperti biasanya. Dapur selalu mengepulkan asap putih membuih dengan aroma bumbu dapur yang menusuk hidung; ibu-ibu tengah memasak sambil berbincang tentang hal-hal keseharian; ruang tengah dipenuhi para lelaki setengah baya karib ayahku, begitu pun di beranda rumah, selalu diisi oleh perbincangan orang-orang sambil minum kopi dan mencicipi suguhan alakadarnya yang disediakan oleh ibuku. Itu terjadi hampir setiap hari bakda maghrib hingga larut malam, kadang orangtuaku harus membeli beberapa kilo ikan dan beberapa potong ayam ke pasar Binuangeun untuk dibakar bacakan bersama orang-orang yang datang ke rumah.



Ilustrasinya keren keren