Ketika saya tahu Karl May menulis novel berseri “Old Shaerhand dan Winnetou” dengan setting lokasi Amerika padahal dia belum pernah ke Amerika, saya terkagum-kagum. Kok, bisa? Bagaimana caranya?

Ternyata riset pustaka saat dipenjara. Dalam otobiografinya, Karl May mengungkapkan bahwa ide untuk membuat Winnetou sudah dipikirkannya ketika masih di dalam penjara Osterstein.

Pramoedia Ananta Toer dengan tetralogi pulau Buru juga begitu. Dia riset pustaka saat dibuang ke Pulau Buru karena persoalan ideologi politik yang berbeda dengan penguasa waktu.

Jadi, hati-hati saat ada penulis sedang riset untuk bakal calon novelnya. Saya pun melakukan itu saat menulis novel “Balada Si Roy”. Tidak tanggung-tanggung, risetnya 6 tahun.
Gol A Gong



