Menanggapi hal tersebut, saya ikut membenarkan dan menyetujui apa yang diungkapkan beliau. Salah satu contoh nyata adalah daerah Bojong, Cikeusik, Cibaliung, Ujung Kulon, dan lainnya, yang sulit mendapatkan ketersediaan buku. Untuk menjangkau perpustakaan daerah yang ada di kota Pandeglang pun bisa menghabiskan perjalanan 2-3 jam.


Maka program perpustakaan keliling dapat menjadi alternatif untuk meminimalisir permasalahan di atas. Pemerintah bisa menjangkau desa-desa kecil yang jauh dari perkotaan. Selain sebagai upaya meningkatkan minat baca namun bisa mengamati berbagai fenomena yang terjadi di wilayah tersebut yang jarang dijamah oleh penduduk luar.

Wilayah pedesaan yang memiliki sumber daya alam yang melimpah, akan cocok bila mendapatkan akses untuk mengelola potensinya melalui buku. Ketersediaan buku-buku seperti budidaya buah pisang, belimbing, kecapi, dan sebagainya. Atau buku budidaya ikan hias, ikan tawar, atau ikan laut pun menjadi hal unik yang bisa dibawa ke pedesaan.


Perpustakaan keliling bisa mendatangkan buku-buku tersebut sebagai upaya memberikan wawasan kepada masyarakat desa, agar mereka memiliki ilmu baru sesuai teori ilmiah, selain mengandalkan ilmu turun-temurun yang diajarkan dari nenek moyang. Dan akan sangat lebih bermanfaat, apabila perpustakaan keliling mendatangkan para ahli untuk memberikan pelatihan kepada masyarakat, khususnya bagi petani, nelayan atau pengusaha.


Sehingga keberadaan perpustakaan keliling akan lebih berdampak kepada masyarakat, dan semoga menjadi jembatan/penghubung dengan stakeholder lainnya untuk pembangunan yang lebih baik di pedesaan. Hal ini saya ungkapkan, karena jarang sekali melihat mobil pusling milik perpustakaan daerah/provinsi yang terjun ke berbagai wilayah pelosok Pandeglang, mungkin karena tidak ada yang meminta atau anggaran yang terbatas.




