Contoh karakter tokoh yang dibangun dengan cara menunjukkan (showing) bukan memberi tahu (telling):
Akbar semakin melebarkan senyumnya. “Silahkan, Pak Wawan, silahkan diambil oleh-olehnya. Itu korma asli dari Mekkah. Sedikit-sedikit, ya. Sajadah dan tasbehnya hanya untuk kepala-kepala sekolah saja. Tidak bisa saya kasih ke semua guru. Bisa tekor saya.

Kita bisa juga membangun karakter para tokoh lewat dialog:
“Tidak apa-apa, Pak Haji. Kurma saja sudah alhamdulillah,” sebagai guru bawahan, Wawan tahu diri.
“Istri saya sudah membagi-bagi dengan rata. Satu plastik berisi 5 kurma. Rata-rata di komplek guru ini, anaknya dua ‘kan. Saya lebihkan satu.“
“Kebetulan anak ketiga kami baru lahir seminggu yang lalu…”
“Wah, alhamdulillah! Pasti akan jadi anak yang soleh, Pak Wawan. Lelaki?”
“Lelaki, Pak haji. Saya dan istri mohon ijin, memberi nama pada anak kami….”
“Namanya siapa?”
“Muhammad Akbar Mabruri….”
Akbar tertawa senang. Perutnya yang buncit terguncang-guncang. “Kamu ini! Bilang-bilang dulu, kek! Tapi, tidak apa-apa. Saya doakan, semoga jadi anak yang soleh, sehat, dan berhasil jadi orang terpandang seperti saya!” katanya mendoakan.


