Tukang Koran Jadi Tokoh Jahat di Cerpen yang Kita Tulis

Masihkah Anda menemukan orang membeli koran dan membacanya di taman-taman? Jika Anda menemukan orang menjual koran di perempatan jalan, belilah satu atau dua koran; anggap saja bersedekah.

Nah, si penjual koran bisa kita jadikan “tokoh” dalam cerpen kita. Kemudian kita kembangkan karaktrenya jadi antagonis. Konfliknya akan terasa kuat. “Sudah miskin, kok, jahat!” kira-kira seperti itu yang akan muncul di hati pembaca.

Please follow and like us:
error0
fb-share-icon0
Tweet 5

2 Hal Penting dalam Novel yang Sering Dilupakan Penulis

Karakter tokoh, itu sangat penting dalam cerpen atau novel. Terutama novel. Ketika pembaca melihat sebuah novel tebalnya sekitar 5 – 10 centimeter, keningnya berkreut. Tapi ketika diberi tahu bahwa karakter tokoh di novel itu unik atau menarik, biasanya pembaca tidak peduli lagi dengan ketebalan buku.

Penulis (pemula) sering melupakan 2 hal penting dalam novel. Yaitu:

  1. Pesan moral yang disusupkan ke dalam tokoh, sehingga mmiliki karakter yang kuat. Biasanya pesan moral adalah sesuatu yang baik. Maka biasanya tokoh protagonis (baik) membawa misi ini.
  2. Melupakan tokoh jahat (antagonis). Padahal tokoh antagonis ini juga membawa pesan moral kepada pembaca, tapi dengan cara terbalik. Jika kita membaca novel “Balada Si Roy” yang saya tulis, tokoh “Dullah” memiliki karakter jahat. Dari tokoh Dullah, kita bisa mendapatkan pesan moral: jangan berbuat jahat kepada orang lain.

Di dalam film layar lebar, tokoh ikonik antagonis adalah “Joker” – musuh bebuyutan Batman si baik. Pesan moral yang kita dapat dari tokoh jahat Joker adalah: kita tidak boleh merundung (bulliying) kepada orang lain!

Jadi pesan moral itu tidak selalu harus disampaikan oleh tokoh baik (good guy), tapi tokoh jahat (bad guy) justru bisa jadi penyampai pesan yang efektif.

Selamat menulis! (Gol A Gong)

Please follow and like us:
error0
fb-share-icon0
Tweet 5

Orang Baik dan Orang Jahat Ada Di Mana-mana

Ada pameo “don’t judge the book by the cover”. Atau juga “jangan menilai seseorang dari penampilannya”. Itu semua dimaksudkan agar kita jangan “tak kenal maka tak sayang”. Secara teori sederhana. Begitu praktik, sering muncul kejutan-kejutan yang tidak kita duga. iItu menarik bagi kita yang menekjuni dunia menulis, karena bisa menambah wawasan tentang pengembangan karakter tokoh novel kita – antagonis atau protagonis.

Ketika saya traveling pada 1980-an, saya menulis begini: orang baik dan orang jahat itu ada di mana-mana. Kata Bapak, “Kamu harus jadi orang baik.” Kemudian saya jadi tahu, mana yang pantas jadi teman atau tidak. Dan itu terus terjadi hingga sekarang di sata usia saya 57 tahun. Begitulah hidup: pahit dan manis semua harus saya reguk! (GG)

Please follow and like us:
error0
fb-share-icon0
Tweet 5

Sumpah, Riset Dulu Sebelum Menulis!

Novel Balada Si Roy risetnya 6 tahun, 1981-1987. Saya menulisnya juga 6 tahun, 1987-1994. Sejak kelas satu di SMAN 1 di Serang, saya mulai menulis “buku harian”  tentang karakter teman-teman saya. Ini menarik untuk dijadikans tokoh dalam novel saya nanti. Selain itu tentang kota-kota yang saya datangi saat traveling untuk setting lokasi. Bahkan kisah orang-orang yang saya temui di jalan untuk alur ceritanya.

Please follow and like us:
error0
fb-share-icon0
Tweet 5

Jangan Sia-siakan Tokoh Antagonis

Suatu hari saya dan mas Golagong Penulis berdiskusi tentang materi dalam Kelas Menulis Gol A Gong. Salah satu bahan pembahasan adalah tokoh antagonis. Setiap manusia punya sisi baik dan buruk. Tokoh baik biasanya muncul dari keturunan dan lingkungan baik. Sesekali ia melakukan kesalahan dan dengan berbagai cara kembali baik.

Begitu juga tokoh antagonis, pasti ada sesuatu yang menyebabkannya menjadi jahat.
Nah, sisi ini sering dilupakan. Kita sering menampilkan tokoh jahat murni dengan kejahatan dan sisi gelapnya yang paling dalam kalau perlu hingga menembus magma.
Tetapi penulis sering lupa sisi kemanusiaan bahwa ada kemungkinan ia bisa berubah menjadi baik. Jika tidak ditakdirkan berubah pun setidaknya ia memiliki kebaikan.

Please follow and like us:
error0
fb-share-icon0
Tweet 5

Jangan Pergi, Roy!

Wanita yang mencintai Roy paham betul bahwa suatu waktu pasti akan ditinggal pergi. Tapi wanita itu selalu berharap, “Jangan pergi, Roy!”

Jawab Roy, “Lelaki memiliki wanita, tapi ia dimiliki semua. Lelaki harus pergi tapi juga harus kembali karena ada yang mengasihi dan dikasihi.”

Karakter tokoh Roy memang saya bangun dengan kredo “cinta tidak menjadi jangkar dalam hidupnya”. Roy hobi bertualang. Jika dia ingin traveling tak ada yang bisa menghalanginya bahkan ibunya. Hanya saja ibunyalah yang kemudian membuatnya harus pulang.

#baladasiroy #filmbaladasiroy #golagong #karaktertokoh

Please follow and like us:
error0
fb-share-icon0
Tweet 5

Perpustakaan dan Motor Luterasi, Ideologi di Novel “Lelaki di Tanah Perawan”

Ideologi di dalam novel yang kita tulis itu sangat penting. Hampir sama dengan amanat di unsur intrinsik. Aku senang membangun karakter tokoh yang gemar membaca. Di novel Balada Si Roy yang siap syuting filmnya 10 Januari 2021, tokoh Roy memiliki perpustakaan. Di dalam tas ransel Royjuga, selalu ada buku-buku seperti Pramoedya Ananta Toer, Ahmad Tohari, Iwan Simatupang.

Untuk para pegiat literasi, semoga tertarik membaca novel terbaru saya Lelaki di Tanah Perawan karena tokoh utama bernama Raka Kuusuma Putra memiliki perpustakaan yang besar di rumahnya. Juga ada tokoh wartawan sebelum meninggal, menghibahkan buku-bukunya kepada tokoh Bang Tato si supir boat. untuk dijadikan perpustakaan desa di Senggolo Joyo, yang hidup di bawah pengaruh makam keramat. 

Bahkan geng motor yang suka merampok harta para koruptor juga dibanding-bandingkan dengan sepak terjang motor literasi di Banten oleh tokoh utama – Raka Kusuma Putra. Link di https://www.storial.co/profile/golagong . Ada 2 novel terbaruku di sana!

Please follow and like us:
error0
fb-share-icon0
Tweet 5