Pohon Salam itu adalah souvenir dari Konfrensi Anak Bobo 2007 di Jl. Panjang, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Nabila – si sulung, saat itu masih kelas 2 SD ikut konfrensi. Sekarang Nabila di Ghuangzhou, China.

Akhirnya keputusan harus diambil. Pohon Salam pun dibonsai walaupun areal Museum Literasi Gol A Gong jadi panas. Saya harus menanam pohon yang baru, agar tetap teduh. Mang Ade menebangnya, dibantu Fadli.

Saya mendengar cerita merkea, saat menebang pohon salam. Sangat heroik, terutama Mang Ade. Di rimbunnya daun pohon salam, ada banyak sarang semut merah. “Mulai dari kepala hingga kaki, semut merah menyerang. Saya diam saja,” cerita Mang Ade.

Saya tidak berani melihat ketika Mang Ade ada di atas pohon salam, persis di puncaknya. Serrrrr, ada angin yang masuk ke kedua kaki saya. Begitu yang saya rasakan kalau menonton Mang Ade menebang dahan-dahan pohon salam yang dihuni semut merah.

Tentu ada uang yang harus dikeluarkan. Saya justru berterima kasih kepada Mang Ade dan Fadli. Mereka sedang memba gnun Museum Literasi Gol A Gong.

Doakan, semoga muncul tunas-tunas atau sirung baru sehingga kai bisa memetik daun salam. Sebelumnya teralu tinggi, sehingga daun salam gugur percuma.


