Sampai di Kupang. Perjalanan yang panjang dan istirahat yang kurang. Sambil menunggu perjalanan selanjutnya ke Maumere menggunakan pesawat yang ukurannya lebih kecil, saya memilih beristirahat di rumah singgah penggiat literasi, yakni Pojok Baca Digital (Pocadi) Bandara El Tari, Kupang, hibah dari Perpustakaan Nasional.


Sambil membaca buku, saya berpikir, “Mengapa Pocadi yang bagus ini tidak ada yang menjaga? , bagaimana nanti keadaan buku-bukunya jika ada tangan-tangan jahil.”

Sebagai orang yang bergelut di dunia literasi – saya Ketua Pengurus Daerah Forum Taman Bacaan (FTBM) Flores Timur, merasa prihatin melihat Pocadi El Tari ini. Padahal tempat semacam ini memiliki nilai manfaat yang tinggi. Lokasinya memang sangat eksklusif; persis di lantai dua bandara El Tari, di ruang tunggu bandara, tak jauh dari eskalator ke lantai dua. Kehadirannya jadi asing sendiri.

Bagaimana Dinas Perpustakaan dan Kearsipan NTT menyikapi ini? Apakah sudah bukan wewenangnya lagi? Policarpus Do sebagai Ketua Pengurus Wilayah Forum TBM NTT, saran saya, harus segera beraksi memberi masukan, agar apa yang telah dihibahkan tidak menjadi mubazir atau salah sasaran. Jika orang-orang di bandara El Tari tidak membutuhkan Pocadi, saya yakin akan lebih bermanfaat jika Pocadi ini dipindahkan ke ruang publik yang mudah dijangkau.


Saat saya berada Pocadi El Tari, hanya ada petugas bandara yang sedang memanfaatkan tempat tersebut untuk beristirahat. Dia mengaku bukan tupoksinya menjaga Pojok Baca Digital Bandara El Tari.

Saya ingat ketika Gol A Gong sebagai Duta Baca Indonesia melakukan Safari Literasi ke NTT. Dia meresmikan Pocadi di Borong. Termasuk menghadiri peluncuran Pocadi di Polda NTT, Kupang, 7 April 2022. Apakah Pocadi di Polda, nasibnya juga sama?

Kapolda NTT Irjen Pol. Drs. Setyo Budiyanto, S.H., M.H. saat itu mengkuatirkan, “Apakah lokasi Pocadi Polda NTT ini akan banyak diakses maskarakat?” Semoga tidak.
Ini link saat Gol A Gong menghadiri peluncuran Pocadi di Polda NTT, Kupang, 7 April 2022:



