Puisi Minggu: 5 Puisi Arie Siregar Tentang Potret Diri

Yang Tak Terjelaskan
Puisi: Arie Siregar

Inilah pertanyaan yang akhirnya
bersemayam di kepalaku:

Apakah aku senang atau sedih menerima ketiadaanmu?

Semua kenyataan yang kini kubawa memang tak lagi
sama. Kau menjadi warna yang lenyap dari dalam kotak
pensil lukisku. Namun aku hampir tak pernah merasa
kehilangan apa pun. Berdosakah aku?

Tapi aku juga masih kerap melihatmu
pada semua hal yang dilukiskan ingatanku.
Dan perihal-perihal itu kadang hadir dan menghadirkan
satu sama lain, kemudian iseng menggugah lelap
kesedihanku.

Aku yakin kau pun telah mengerti dengan cerita
yang Tuhan rangkai dalam buku hidupku hari ini.
Kesenangan yang pernah kutulis dalam lembar-lembar
mimpiku dulu, benar-benar terjadi seperti dongeng-dongeng
happy ending yang tak pernah kaukisahkan untukku.

Senang dan sedih di hati ini, aku tahu kau tahu
di mana mereka mengambil posisi.

Rantauprapat, 14 Desember 2023

Ibuku
Puisi: Arie Siregar

Ibuku tentu telah khatam membaca air mata
masa kanak-kanakku. Di sepasang matanya
yang tetap cemerlang, akulah definisi mimpi-mimpi
yang terwujud di luar kehendaknya. Sebab
bukankah kenyataan memang lebih suka
mengingkari ekspektasi? Dan kita tetap
saja lebih senang merangkainya.

Dan aku—seharusnya—telah kenyang
mengisap cucur letih perjuangannya.
Ketulusan tak berujung yang membentang
menutup luka. Dialah yang terang melihat
kabut mendung di balik cerah senyumku.

Tetapi aku, tetap saja membaca dirinya
seperti buku kumpulan rumus matematika
yang terpojok berdebu di perpustakaan sekolah.

Rantauprapat, 22 Desember 2023.

Kita
Puisi: Arie Siregar

Kini akulah nyaring kata-kata yang meluap
dari mulutmu. Kerinduan yang kaucari saat
padam api emosi. Nyala-nyala kecil yang
menarik matamu mengunjungi detik waktu,
untuk menerka-nerka setiap kepergianku
yang kautahu usainya.

Kesunyian yang kerap bersarang padamu
ketika berhadapan denganku dulu, telah jauh
mengepak sayapnya meninggalkanmu.
Kau sudah jadi gemercik air dalam gua-gua
hampa. Dan aku pula berbalik menjadi kebisingan
kosong yang terus kauisi.

Sebab kita telah menjelma masa depan
yang kita putar dalam layar buram angan-angan
dahulu. Melangkah di jalan-jalan gelap dengan
sedikit cahaya pikiran-pikiran kusut kita.
Menghindari lubang demi lubang, jurang
demi jurang. Sampai kita pun tiba memeluk akhir
dengan keikhlasan purna.

Kita tahu diri kita, masih akan berkelana
di ingin yang sama.

Rantauprapat, 30 Januari 2024.

Saudara Perempuan
Puisi: Arie Siregar

Kaulah separuh diri Ibu yang tidak pernah kausadari.
Segala yang Ibu hujamkan ke relungmu adalah senjata
berbahayamu yang juga selalu siap menyerang siapa pun.

Kau adalah pecahan-pecahan sabar yang tak pernah bisa
kau satukan sendiri. Kepalamu goa batu: sarang sekelumit
masalalu air matamu.

Dan air matamu, kau tahu, adalah api kemarahan Bapak.
Kau tentu ingat tangismu yang pernah tinggal membekas
di dada Bapak. Dia memberi seutuhnya kehangatan hatinya
untuk sepenuhnya perasaan di hatimu.

Pernahkah kau merindukan kehangatan itu? Kau tentu
masih menyimpan baranya di kedalaman dirimu. Dan takkan
salah menerka bara yang kini juga menghangat di inti dirimu.

Rantauprapat, 20 Februari 2024.

Ketika Aku Memandang Diriku
Puisi: Arie Siregar

Aku tak bisa melihat diriku dalam cermin. Orang-orang
yang tinggal dalam kebenianku adalah cermin yang sebenarnya.
Dan aku adalah cermin bagi setiap yang kutolak dalam diriku.

Kadang kala aku api belaka bagi kelembutan-kelembutanku.
Berulang kali mengabu dan utuh kembali dengan kehilangan-kehilangan
baru. Tapi aku tahu dunia tak punya kesempurnaan. Hilang tak selalu
berarti akan berganti. Dan menemukan adalah menerima tanpa
pertanyaan-pertanyaan.

Aku juga tak jadi cahaya di kegelapan siapa pun. Jalanku sendiri terjal
dan jatuh selalu menjegal. Hidup benar-benar penuh dengan jurang,
dan siasat-siasat juga yang kupegang sebagai bekal.

Rantauprapat, 10 Maret 2024

Arie Siregar, lahir di Rantauprapat, Kab. Labuhanbatu, Sumatera Utara, pada 21 Juli 1991. Pada pertengahan tahun 2017, ia menerbitkan buku solo pertamanya: Mendendam. Buku kumpulan cerpen tersebut kemudian terbit ulang dengan banyak revisi pada tahun 2022. Setelah menerbitkan buku tersebut pada tahun 2017, ia telah melahirkan karya-karya lain berupa cerpen, cernak, dan puisi yang terhimpun dalam banyak buku antologi sayembara tingkat nasional. Tahun 2019 ia juga turut menjadi pendiri komunitas menulis di Kabupaten Labuhanbtau bernama Arus Kata, dan tahun 2020 turut pula menjadi pendiri Forum Penulis Labuhanbatu (FPL).

PUISI MINGGU terbit setiap hari Minggu. Silakan mengirimkan 5 hingga 10 puisi tematik. Sertakan foto diri dan gambar atau foto ilustrasi untuk mempercantik puisi-puisinya. Tulis bio narasi dan pengantar singkat. Kirimkan ke email : gongtravelling@gmail.com . Ada uang pengganti pulsa Rp 200.000,-. Sertakan nomor WA dan nomor rekening banknya.

SEGERA TERBIT: Edisi 17/I/28 April 2024:

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==