Puisi Atika Tegar Imawati
Riuh
dimana lagi akan kutemukan kidung kesedihan?
kalau bukan pada tubuh-tubuh dewasa
yang telah terjaga bahkan sebelum sempat terlelap
kata-kata menjelma teman yang senantiasa
mengamini kesepianku di sepanjang gang,
jalan untuk meninabobokan kelelahan yang
bosan bertengger di bawah mataku
saban langkah
itulah selamat tinggal bagi gemerlap kota
yang berkelana bersama sisa percakapan
dan resolusi akhir tahun
di antara tembok-tembok yang saling bercumbu
tikus-tikus bergosip tentang
kemelaratan yang menyelimuti atap dan pintu
dimana lagi akan kutemukan sesuatu yang sibuk bersiasat?
selain di kepala orang-orang yang terus bermonolog:
apakah sempat?
Jakarta, 2024

Puisi Atika Tegar Imawati
Kalender Tak Mengenal Tanggal Kesedihan?
musim hujan telah usai sebulan lalu
tetapi, tak ada pancaroba pada wajah-wajah
yang berdiri di bawah payung hitam
pelupuk matanya terus berkondensasi
atas kerinduan dan pertanyaan tanpa jawaban
—kalender tak mengenal tanggal kesedihan?
sebab seluruh angka adalah perjudian, bukan?
dan saban kamis
menjadi hari peringatan bagi para ibu
mengenang anaknya yang masih
disekap oleh sesuatu bernama waktu
—kalender tak mengenal tanggal kesedihan?
ucap seorang ibu dengan keyakinan dalam doa,
kepala, dan sepanjang penantiannya
maka, ia ulangi
sampai lebih dari delapan ratus kali
Jakarta, 2024

Puisi Atika Tegar Imawati
Kita Telah Kehilangan Sesuatu
—I
kita telah kehilangan sesuatu
yang lama akrab di sudut kota ini
ia mulai asing—lesap oleh
gedung-gedung tinggi: metropolitan
—II
bibir seseorang yang bertandang
dari nun jauh disana,
membeku oleh percakapan di langit Sudirman
di balik polusi yang bercumbu dengan udara Jakarta,
pertanyaan setengah gamang mulai
menggugat ingatannya tentang buku-buku sekolah
yang sempat mengajarinya bahasa ibu
—III
kita telah kehilangan sesuatu
atas kepopuleran yang datang dari Barat
dan menginvasi kosakata pada tubuh
yang dalam nadinya mengalir darah muda
—IV
di coffeshop, mall, bahkan sepanjang jalan sekalipun
seakan tak pernah ada yang menyadari
atau mungkin berpura-pura tak tahu
bahwa kita—telah kehilangan sesuatu:
kehangatan
dan kata-kata
Jakarta, 2024

Puisi Atika Tegar Imawati
Pukul Berapa Aku Akan Selesai?
jarum jam di pergelangan tanganku
adalah penunjuk sisa waktu
memerankan lakon di panggung ini
lampu sorot kian meredup—seperti usia
tak ada musik maupun gesekan biola
hanya tersisa denting sunyi
yang perlahan-lahan membeku
pada keningku
dari balik tirai yang memisahkan kecemasanku
ingatan masa lalu datang mengendap-endap
menjelma tokoh lain dan berkelahi
dengan isi kepalaku yang kian gaduh
percakapan telah lama berakhir
sejak kesepian menguasai panggung ini
dan aku pun mulai merasa akrab bermonolog
bersama diriku sendiri lewat kedua bola mataku
yang kini asing dengan wajah anak-anakku
jarum jam di pergelangan tanganku
seolah persimpangan yang mengharuskan
untuk bertanya:
pukul berapa,
pukul berapa, aku akan selesai?
Jakarta, 2024

Puisi Atika Tegar Imawati
Aku Punya Pekerjaan Sekarang
/a/
aku punya pekerjaan sekarang
bosnya ialah pertanyaan
yang setiap malam mengetuk
pintu mimpiku sebelum fajar
tiap pagi,
aku akan pergi menenteng doa ibu
dan sekotak petuah dari ayah
meski ia melepasku tanpa restu
/b/
aku punya pekerjaan sekarang
tiap petang,
kakiku bergegas pulang dan seringkali
berjumpa dengan sepotong jawaban
yang kukira telah hilang—lesap
oleh gempita metropolitan
/c/
aku punya pekerjaan sekarang
kecemasan tak lagi akrab denganku
ketika mengingat wajah tetangga
yang selalu ingin tahu saat tubuhku
kembali dari rantau:
“apa pekerjaanmu?”
tanpa ragu aku akan menjawab:
“memecahkan teka-teki kehidupan”
Jakarta, 2024


TENTANG PENULIS: Atika Tegar Imawati adalah seorang mahasiswi tahun pertama prodi Manajemen Aset di PKN STAN. Lahir di Jogja dan sekarang bolak-balik Jogja-Tangsel untuk menyelesaikan studi. Aktif menulis dan berkompetisi. Tahun ini menjadi Kontingen Pekan Seni Mahasiswa Nasional Cabang Penulisan Puisi mewakili Provinsi Banten. Atika bisa disapa melalui Instagram @atikaategar.

PUISI MINGGU terbit setiap hari Minggu. Silakan mengirimkan 5 hingga 10 puisi tematik. Sertakan foto diri dan gambar atau foto ilustrasi untuk mempercantik puisi-puisinya. Tulis bio narasi dan pengantar singkat. Kirimkan ke email : gongtravelling@gmail.com. Ada uang pengganti pulsa Rp 200.000,-. dari Puisi Esai Network. Sertakan nomor WA dan nomor rekening banknya.


