MN Fazri
Jatah Untuk Ayam
Ibu di belakang suami berbisik
Sayang, sayang
Ada berapa anggaran yang masuk ke kita
Ia bersorak pada seisi keluarga
berbagi nota, kertas dan lain sebagainya
Dua minggu setelahnya
Pedagang bubur ayam mengetuk pintu rumah
memberi sepucuk surat
Pagi buta, di antara kuburan mata
Suara ayam menyerbu, membawa petaka
Ada apa ini sayang?
Bukankah kita telah menyiapkan kandang
memenjarakan yang tak senada
Ciak ciak ciak
suara ayam, memenuhi ruangan
mencari galian
Serang, 21 Oktober


MN Fazri
Pendekar
Di pelupuk mata sang pendekar
Menyimpan dera yang ditahan
Sekuat tenaga, menahan
Beribu hujatan, dua kali
Dipilih oleh kawanan, dilawan juga oleh tahanan
Terpilih juga, sampai menuai cibiran
Memori tumpul
Mereka memilih, mereka pula yang menindih
Sang pendekar melawan
Semua keluarga ia turunkan
Tahta dibawa oleh yang pertama
Jabat tangan di malam
Seulas harap menuai garapan
Kekayaan atau kemiskinan ke depan?
SMPIT Widya Cendekia, 13 Oktober


MN Fazri
Pegiat Donasi
Pegiat donasi tertawa di balik layar
ranah penjara, seutas temuan berkali-kali di hakimi, tak kunjung jera. Sampai bilamana
pasokan papan sandang dan pangan tujuh turunan dibekali
Ia bersiaga di balik ranah penjara, menebar senyum bunga, harap masa yang dipotong jangka
Jujur saja. Pihak pribumi mual darah, mual nanah
Tetap saja, kata sabar berbekal tabungan yang panjang.
Harap-harap
Pegiat donasi akan jatuh dari sumur ke tujuh, utas tali di pinggir sumur menyelamatkan tubuh
beberapa dekade lamanya
hingga hilang, jejak di sekujur tubuh
bukan salahmu tertawa diujung nama
Salah kami, sebagai aspirasi
Perpustakaan, 17 Oktober


MN Fazri
Adu Ilmu
Pemilik tanah dan pendatang beradu ilmu
Ilmu batin, ilmu nasab dan ilmu akal
Kedua bertikai di garis terdepan
beberapa saksi mata kebingungan
tentang apa yang ingin dijelaskan oleh kedua
penyandang keraguan sejahtera
Pemilik tanah berkata dengan niat mensucikan tanah leluhur bangsa
Pendatang berfatwa ini adalah bumi sang Maha Esa
Bertukar ilmu, dirasa tidak sama
Keduanya berjalan di antara kemelut cinta
Merusak perdamaian berjuta tahun lamanya
di balik catatan panjang pustaka
Lapangan, 04 Oktober


MN Fazri
Leluhur
1945 silam. Leluhur beradu tajam melawan penjarah
Mengasah jiwa rasa senjata dan pengetahuan
menyimpan catatan panjang
Hitam dikubur dalamdalam
Putih ditulis rapih
Tiada kuasa menegakkan panji satya
yang berasal dari tanah
Kembali rebah dari asalnya
Penerus leluhur beradu tajam sesama golongannya
duduk satu meja
membunuh harapan kelas bawah
sesama mereka di atas sana
sengaja memukul meja, merah padam
di tempat sepi di ujung meja
Tawanya menuai kecaman
Para leluhur yang terbang
melaporkan akting tua bangka
Kamar, 20 Oktober



PUISI MINGGU terbit setiap hari Minggu. Silakan mengirimkan 5 hingga 10 puisi tematik. Sertakan foto diri dan gambar atau foto ilustrasi untuk mempercantik puisi-puisinya. Tulis bio narasi dan pengantar singkat. Kirimkan ke email : gongtravelling@gmail.com. Ada uang pengganti pulsa Rp 200.000,- dari Puisi Esai Network. Sertakan nomor WA dan nomor rekening banknya. Jika ingin melihat puisi-puisinya yang sudah tayang, klik banner di bawah ini:


