Puisi Minggu: 6 Puisi Faris Maulana Akbar tentang Buku

Faris Maulana Akbar
PENCARI IDE

Lelaki itu mencari ide di keheningan buku-buku;
ia buka satu persatu dan buku menghisapnya menjadi kata-kata baku dan tidak baku;
raganya kaku tetapi sukmanya masuk menerobos ruang waktu.

Aku berlari di atas aksara
Menari-nari bersama kata-kata

Di tampuk wacana; ditimpuk berita
Hingga tersesat di antara titik dan koma

Ke mana perginya makna?
Mengapa ia tak wujud dalam dunia kata?

Aku tak lagi bisa membaca
Ide lesap dibawa kutu loncat

Ke mana perginya kutu
Semua buku menutup jalanku

Bojonggede, 2024

Faris Maulana Akbar
MIMPI SEDERHANA

Aku ingin
duduk di bangku
sepanjang hari
membaca buku

Melayani tamu
entah peminjam
atau pembeli
buku-buku

Berdiskusi
Berkontemplasi
lalu menulis
buku-buku

Membaca lagi
Berdiskusi lagi
Menulis lagi
Buku-buku

Terus saja begitu
sampai waktu
lelah mengejar

buku-buku

Hingga saat
aku berangkat
pulang kembali
menjadi buku

Lalu kau
membacaku
sepanjang hari
sebagai buku

Bojonggede, 2024

Faris Maulana Akbar
PANGGILAN BUKU

Seringkali
aku merasa
buku-buku
memanggilku

lihat aku
pilih aku
pungut aku
baca aku

di perpustakaan
di toko buku
di mana-mana
sama saja

Apalagi di bazar
ketika diskon besar-besar
tapi hanya bisa sabar
karena keinginan tak mampu kubayar

tengok aku
raba aku
beli aku

demi aku

Apa cukup pintar hidup dengan buku
berlapar-lapar dulu lalu mati lucu?
Jika kertas adalah uang
bisakah buku melunasi hutang?

Belum ada jawaban
yang saling memuaskan
samudera hati
semesta pikiran

Lama-lama muncul pertanyaan
“Apakah kamu adalah buku
ataukah buku adalah kamu
yang selalu ingin mendapat perhatian?”

Buku-buku itu
terus memanggilku
mendayu-dayu
merayu-rayu

ambil aku
bawa aku
jadikan aku
kekasih baru

Bojonggede, 2024

Faris Maulana Akbar
ATAS NAMA BUKU

Atas nama buku
jarak kulipat
waktu kutangkap

dari Indonesia
hingga Tunisia
buku kuburu sampai dapat

Langkah bersaksi
menapak bata-bata Zaytunah
toko-toko kitab tumpah

Ya Sidi, hal laka kitab lil Jabiri?
Kata adalah tali
agar dunia bisa saling mengerti

Ya Indonisi, ma ‘indi, ma fi!
Jawab adalah takdir
atas buku yang tidak hadir

Maka kaki tak mau berhenti
menari bersama angin musim dingin
menziarahi sisa peradaban abadi

Tumpukan kertas-kertas Eropa
saling menghangatkan diri
di lorong-lorong masa

Para penjaja buku tua
sibuk menata kepingan sejarah
di trotoar yang basah

Kafe-kafe menjadi saksi
penyemaian demokrasi pascarevolusi
via krosoang, bambalouni, dan kopi

Di sudut kota romantis
akhirnya kutemukan markas penulis
tradisionalis sampai modernis

Mataku bereaksi
Kaki-tanganku beraksi
Tanpa sangsi, apalagi gengsi

satu kitab

dua kitab
tiga kitab

kurengkuh semua
kubopong ke meja
menebus maharnya

Merci!
Kata sang penjaga
seolah aku teman lamanya

Aku membalas
Terima kasih!
dan kami tertawa bersama-sama

Sampai di sini,
atas nama buku,
aku bersaksi:

“Dunia tampak
seperti selebar
daun kelor saja”

Bojonggede, 2024

Faris Maulana Akbar
BUKU KELANA

Buku itu berkelana
dari masa ke masa
berkeliling dunia
dari Timur ke Barat
atau sebaliknya
mengarungi samudera
mengunjungi benua-benua
melepas sekat kasta
melebur aneka budaya

seperti Ramayana
atau Mahabrata

tapi bukan fiksi
bukan pula kitab suci

Buku itu berkelana
seperti Ibnu Khaldun
atau Vasco Da Gama
mencatat hal-hal ajaib
seperti Alfu Lailah wa Lailah
atau Kalilah wa Dimnah
tapi sampulnya tak berjudul
penulisnya tak bernama

orang-orang bertanya-tanya
apa isinya
siapa penulisnya
berapa harganya

namun buku itu memang tak punya nama
karena memang bukan milik siapa-siapa
harganya tak ada
soal isi, dunia tersimpan di dalamnya

buku itu terus berkelana
menua bersama manusia
hingga kelak sang kala
mengakhiri langkahnya

lalu di dunia tanpa kata
buku itu akhirnya membuka diri
Orang-orang membaca sendiri
Ada yang menangis, ada yang tertawa

Bojonggede, 2024

Faris Maulana Akbar
LIMA SAJAK RIWAYAT BUKU

I. RIWAYAT PENYELUNDUPAN
Inggit mutih tiga hari
Demi sebuah misi
Demi ambisi suami
Kus menanti di balik jeruji besi

Kus, Kus
Aku datang membawa rembulan
yang kauidamkan
setiap malam

Kus, Kus
Rembulan kukandung di balik kemben

sebagai jimat
agar kau tak melempem

Kus, kus
Terimalah rembulan itu
Semoga bisa terangi hidup
walau petimu gelap dan busuk

Inggit adalah ratu
seorang raja pemersatu
bertapa dalam buku
Demi menyulut kobaran baru
#

II. RIWAYAT PENGGELEDAHAN
Bu Nyai sedang menanak sayur dan nasi
kala dua lelaki tiba-tiba datang menghampiri

Mbak Yu bantu kami
Sebelum langit runtuh tolong diamani
Di luar polisi Belanda datang mencari-cari
Buku yang menyalakan api ini

Dua lelaki itu lekas pergi
Menyisakan sunyi untuk Bu Nyai
tanpa kikuk membuka tutup periuk nasi
memasukkan buku penyulut api

Di sanalah buku itu bersemadi
Tanpa ketahuan sama sekali
#

III. RIWAYAT PEMBERANGUSAN
Merah adalah darah
dan buku adalah mimpi buruk
yang harus dilenyapkan
atas nama Tan, Pram, dan Lekra

api mengabadikan dunia kata

yang tak menemukan pembaca
demi keselamatan dunia mer(d)eka
demi kemaslahatan bersama, katanya

Orang-orang menanak tanya
Mengapa harus takut pada kata-kata
Mengapa harus ada buku-buku disita
disiram, dibakar, atau disirna bermacam rupa?

Padahal, tak pernah ada kata mengkreasi bencana
Kecuali manusia sang peternak makna
Atas alasan yang sama mampu memenjara
Memasung kebebasan jiwa-jiwa merdeka
#

IV. RIWAYAT PENGHABISAN
Seorang lelaki khusyuk sibuk
Mengunyah pikiran buruk
Penghabisan buku-buku
Yang dicintainya sejak dulu

Pikirnya,
Jika dan hanya jika:

Pohon itu sakral
Buku dari kertas
Kertas dari kayu
Kayu dari pohon
Pohon itu sakral

Lebih banyak mana kayu untuk buku atau untuk sekutu?
Adakah hutan buku atau justru pabrik buku?
#

V. RIWAYAT HIDUP
Buku adalah awal dan akhir

Buka dan tutup
Baru dan bekas tak peduli
Asal bisa dibaca dunia akan kembali

Di dalam buku kita hidup
Hidup adalah buku
Nafas adalah huruf
Memaknai ialah membaca

Sebelum tutup buku
Maukah kau menuliskannya?

Bojonggede, 2024

TENTANG PENULIS: Faris Maulana Akbar. Perantau dari Madura yang kini tinggal di Bogor. Karya-karyanya
pernah dimuat di beberapa media massa seperti Radar Madura, Radar Surabaya, Radar Mojokerto, dll. Kumpulan cerpennya berjudul Dongeng Negeri Topeng (Bimalukar, 2021). Bisa disapa di IG: @farispharis.

PUISI MINGGU terbit setiap hari Minggu. Silakan mengirimkan 5 hingga 10 puisi tematik. Sertakan foto diri dan gambar atau foto ilustrasi untuk mempercantik puisi-puisinya. Tulis bio narasi dan pengantar singkat. Kirimkan ke email : gongtravelling@gmail.com. Ada uang pengganti pulsa Rp 200.000,- dari Puisi Esai Network. Sertakan nomor WA dan nomor rekening banknya. Jika igin melihat puisi-puisinya yang sudah tayang, klik banner di bawah ini:

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==