Puisi kelima:
PENGAKUAN DOSA
:untuk Nabo
9 Maret 2023
Sendiri sepi
Bersama sakit hati
Dosa besar anak rantau
Mental lokal lidah rental
Sendiri sepi
Bersama sakit hati
Darah Korea tulang Cina
Memaki malaikat kiri
Sendiri sepi
Bersama sakit hati
Domba bakar enak karena tersesat
Minum air susu Megawat
Sendiri sepi
Bersama sakit hati
Duyung plastik keturunan pandemi
Memakai rok mini motif otomotif batik Kendari
Sendiri sepi
Bersama sakit hati
Durhaka bidadari dunia malam
Mengutang kutang hitam
Sendiri sepi
Bersama tanpa hati
Do, nada pertama sangkakala
Magenta, lampu pembatas neraka surga


Puisi keenam:
MATA
19 Februari 2023
Seorang wanita memiliki tiga warna di tubuh
Berbalut kerang pantai, rumah yang ramah kepada rasa
Anak bungsu telah memiliki dosa besar
Jenggot dan kumis lebat tidak ada beda
Masih terlihat kecil dimata mama
Rambut pirang berkaca-mata corak sapi teras rumah
Bibir tipis senyum tanggung
Biji mata anak kampung
Mencari kesempatan pandang
Ketika mata bertabrakan, saling menepi mencari pengalihan
Pohon kolase berbuah bahagia
Tiga sesi pasien akhir pekan


Puisi ketujuh:
NICOLE
28 September 2022
Selalu ada yang janggal
Selamat tinggal akal kertas di pohon sakral
Menceritakan semua ketidak-iyaan
Menangkap ibu lain dan dijadikan bapak di kursi penumpang
Tengok ke langit yang biru gelap
Terlihat dalam dan menyeramkan
Sekalipun sekilas ada penyu yang tempurungnya berasi bintang
Pola berulang
Ranjang satu orang menampung segala beban tulang belakang
Bantal tangan kanan keram ditatap cermin di pintu lemari
Setelah berganti posisi dengan penumpang, tertabrak segala profesi dan melindas tamu di bibir gelas plastik
Tiap masalah berbentuk kecup, tiap harapan berwujud peluk.
Bulan mencari kutu di kepala yang berteman dengan mahkota
Ada ragu tertulis di gigitan kue yang seolah senyum bahagia
Bekas lipstik mewarnai lesung pipi
Kehangatan yang semakin pura-pura
Sungguh romantis pikiran saat sedang sendiri
Menganut teori bahagia tanpa terikat
Benar-benar bahagia berbentuk liar
Tetapi ada sadar yang selalu tumbuh
Bahwa mencoba memberi nyawa pada daun telinga adalah air mata
Tidak paham dengan susunan rusuk kiri yang dilengkapi kutang
Ada perasaan normal



TENTANG PENYAIR: PUTRA HANUDDIN PALIWENGI lahir awal tahun 1997. Tamat di SMKN 2 Kendari Jurusan Teknik Pemesinan, beberapa tahun kemudian, yakni 2021—2022 mempelajari animasi 3D di sekolah nonformal, Generasi 7, DOES University, Yogyakarta. Putra menyukai dunia kreatif seperti tarian modern, membaca, menulis, dan menonton film. Sejak sekolah dasar selalu punya ketertarikan tersendiri dengan sastra. Saat melihat buku pelajaran Bahasa Indonesia, halaman yang pertama dibuka adalah puisi. Ini dilakukan sejak masih sekolah dasar. Selain puisi untuk anak sekolah dasar yang ditemui, puisi pertama yang Putra selalu ingat adalah “Pangeran Diponegoro” karya Chairil Anwar yang dikenalkan oleh Bu Sitti Zatiar Ihfa, guru Bahasa Indonesia SMAN 1 Kendari. Karya Putra pernah dimuat dalam beberapa media koran Kendari, internet, dan beberapa antologi. Putra adalah relawan-anggota Pustaka Kabanti yang pertama sejak awal 2016. Ia juga pernah bergiat di Kendari Breakin, Punk, Stand-up Comedy Kendari, Duta Bahasa Sulawesi Tenggara, Rumah Buku Firza, Relawan Anti Korupsi, Sheinafiaz, Purna Paskibraka Sulawesi Tenggara, dan Teman Dengar Kendari. Putra bisa dihubungi melalui Instagram: @Putra_aco.
Puisi Putra terhimpun di dalam antologi puisi Jelajah Kata Jelajah Kota, karya anggota Pustaka Kabanti Kendari, terbit tahun 2022 oleh penerbit Pustaka Kabanti

PUISI MINGGU terbit setiap hari Minggu. Silakan mengirimkan 5 hingga 10 puisi tematik. Sertakan foto diri dan gambar atau foto ilustrasi untuk mempercantik puisi-puisinya. Tulis bio narasi dan pengantar singkat. Kirimkan ke email : gongtravelling@gmail.com . Mulai Maret 2024 uang pengganti pulsa Rp 200.000,-. Sertakan nomor WA, nama bank dan nomor rekeningnya.


SEGERA TERBIT:


