Puisi Minggu: 9 Puisi Andi Wirambara tentang Vereveniampetere

Andi Wirambara
VEREVENIAMPETERE : SUMUR

sebuah adegan, kau melempar ember
ke dalam sumur. hendak menciduk
taram yang kaulewatkan semalam

ember itu membentur dasar
mengeluarkan bunyi seruling
membunyikan nada ritmis
berdering sebagai isak tangis

kau heran, menengok ke dalamnya
namun kau hanya melihat aku
meringkuk di kedalaman
memeluk bulan yang kemarin
tergelincir dari matamu yang pinus

adegan bergeser, menyorotiku
di dasar sumur menanti salju turun
dari pandanganmu di atas
hingga mencair, hingga penuh

membawaku mengambang
terangkat ke permukaan, berharap
kau menyambutku di sana
meski untuk mengucapkan

selamat tinggal kepadaku
sekali lagi

(2023)

Andi Wirambara
VEREVENIAMPETERE : LAUT

Jikalau tangis ialah laut dengan suara lepih yang menggaraminya
maka biarkan aku menyeka matamu, mengeruk bentala lebar-lebar
lalu lahirlah danau yang bertetangga dengan laut itu
berbatas dengan samudera di dalam kaleng susu
memanas-maniskan asin di setiap lipatan-lipatan ombaknya
kemudian menggulungku ke pesisir, diam-diam
tanpa bergumam apapun

aku terdampar di perbatasan pasir dan air yang koyak
sembari memeluk kerutan-kerutan di kepala
beserta tanda tanya, bersama segala keheranan
aku berubah menjadi lautmu yang asing
yang tak lagi menjadi tujuanmu memandang matahari
tergulung sore dengan jingga-jingganya yang lembut

pada akhirnya tangismu adalah laut yang tak menyedia ombak
dan aku hanya mampu menekuri gelisah yang pecah
berteriak dalam lubang-lubang terumbu

(2023)

Andi Wirambara
VEREVENIAMPETERE : SUNGAI

Di keningku, kau ceruk sungai itu
aku menyebutnya pura-pura telaga
yang menampung keluh bibirmu
di malam yang lamur

sementara aliran sungai berkelok,
berbelok dan berkokok dalam arus
yang santai, membawa pagi terbawa
bersamanya ke pelipis laut

aku bergelantung pada pohon
di pinggir sungai itu, seperti kera
yang dipatuki burung-burung
berkaki jenjang, merasa anggun
berdiri dengan angkuh yang
tak mampu dibendung

sementara aku terus menyumpahi
dan melempari kebodohan yang kian
terbawa arus, lalu tersangkut
pada akar-akar gambut
yang melarikan diri dari rawa

seperti bagaimana aku kabur
dari batu-batu yang membantu
aku tersangkut sebelum terjun
kepada sesal yang teramat jauh
hanya menyisakan lolonganku
terisap pada lumpur-lumpur
di dasarnya

(2023)

Andi Wirambara
VEREVENIAMPETERE : AIR TERJUN

kecewamu turun tetes demi tetes
berambai-ambai ke atas kepalaku
sebagai air terjun

sementara aku harus siap
menghadapi berisiknya diam
yang kau gaung di gaib
pendengaranku

aku hendak mencari sunyi
seperti penyair berlagak petapa
mencari kata-kata jitu
bertahun-tahun lamanya

maka biarkan aku pulang
disambut deras air terjun
saat membuka pintu
lalu aku bersila di bawahnya
serupa petapa berlagak penyair

merenungi diammu
yang lebih bising
dari jatuhan air terjun
di atas kepalaku

(2023)

Andi Wirambara
VEREVENIAMPETERE : KOLAM

Pohon warna merah jambu tumbuh di pekaranganmu
di samping kolam tempat kau sering taburkan kelopak bunga
pada masa kecilmu, seolah-olah ritual berterima kasih
kepada pohon itu, yang konon hanya bisa berbuah
di hari ulang tahunmu

Kolam itu sering memantulkan bayangan purnama
mengubah warnanya menjadi merah jambu pula
kau senang melihatnya sembari duduk di bawah dahan
dan membiarkan daun-daun memandikanmu
membiarkan senyummu juga terpantul tenang
bergoyang-goyang halus di gelombangnya

kau tak pernah menyadari, dan mungkin tak peduli
di dasarnya aku terduduk dengan wajah belas kasihan
hendak mendaki berenang-renang ke permukaan
kemudian menjadi naga yang bangkit dari samudera
untuk melihat wajahmu terkejut saat kemunculanku

usai keberadaanku kau mahfuz,
aku akan tercemplung kembali ke dasar
bersembunyi berabad-abad
sebagai dongengmu seumur hidup

(2023)

Andi Wirambara
VEREVENIAMPETERE : RAWA

senyumku terbuat dari rawa, dan aku berjanji
tak akan mendatangimu lagi dengan luapan
air-air kecokelatan yang membawa ilalang
dan mendamparkan bergandeng-gandeng buaya

kau tak perlu mengusirku,
sebab di antara penghuni belantara,
aku hanya pukalan air yang pahit
yang akan beranjak dengan sendirinya
usai musim berganti
menukar senyumku yang belukar
seutuh-utuhnya dengan oasis
di kacamatamu yang pasir

sebab usai keruh diriku telah kau lihat jelas
tiada lagi perahu yang mau melintas untukku
tidak ada lagi ikan-ikan yang membodohi diri
mencumbu kail-kail para pemancing

dan tidak ada lagi senyumku yang rawa
mendatangimu untuk kautepuk seperti nyamuk
lalu memembiarkanku hanyut
ke dasar gambut

(2023)

Andi Wirambara
VEREVENIAMPETERE : WADUK

aku ingin mengajakmu memancing
berjalan di pinggir bendungan
menata kursi lipat di tepian waduk

namun kau memilih berenang ke tengah
berdiam menjadi suar
menuntun capung-capung
agar terbang ke perantauan yang benar

membiarkanku sendiri
menjadi kincir yang renta
di pinggir waduk
mengipas aroma-aroma anyaman

sembari menjahit kekosongan
di antara malam dan pagi
memintal-mintal hening
menjadi rajutan perahu

untuk menyampaikan salamku
kepadamu, dan berpesan
agar kau tak lupa jika aku

ingin mengajakmu memancing
dan pulang dalam wujud masing-masing

(2023)

Andi Wirambara
VEREVENIAMPETERE : MUARA

Aku sudah tak mampu menghitung seberapa banyak perjalanan
yang telah kutempuh demi temui telimpuh yang tepat bagimu
mengalirkan ragu-ragu menjumput zaman demi zaman,
menyapa kafilah demi kafilah, menarik benang dari ujung bibirmu
ke ujung bibirmu satunya yang memberentang selaik kutub-kutub
di tenggara peta dan menghadiahkan dunia dengan senyummu
yang muara di antara benua-benua.

Sementara aku sudah tak mampu lambaikan tangan sebagai tanda
aku menyerah dalam menghanyut kelu kekataanku yang gugu
di hadapan senyum dan anggukan pelanmu itu.

Seketika aku jadi reruntuhan yang berserakan di estuari
yang dihinggapi rajungan, bulus-bulus duduk bersantai menggigiti
akar-akar mangrove. maka kuteguk segelas kopi yang payau,
menyiapkan lamunan yang lebih laut daripada tawar sapaanmu

sembari menunggu perjumpaan kita di sana
menari-menari di muka kubanganku yang hilir.

(2023)

Andi Wirambara
VEREVENIAMPETERE : GENANGAN

Aku tak mau menulis air mata dan tangisan
untuk berkisah tentang genangan,
Tidak pula menyebut lubang-lubang di jalanan
kemudian mengutuki kinerja pemerintahan
atas kubangan tiap tibanya penghujan.

Aku ingin menulis tentang langkah kakimu
memijak-mijak tanah yang tergenang
Di antara pasir dan mungil-mungil batu
biarkanku mengikuti jejakmu pada gamang

Perlahan kaki ini terasa kian berat
sekian kerikil melarangku lanjutkan tualang
sementara punggungmu kian jauh
langkahku terbenam dipeluk gersang

(2023)

Keterangan: Seluruh ilustrasi dibuat menggunakan AI melalui web civitai.com

TENTANG PENULIS: Andi Wirambara, lahir 24 September di Ambon. Praktisi hukum yang menyenangi sastra. Karya-karyanya telah dimuat di sejumlah media nasional dan lokal baik cetak maupun daring. Karyanya juga terhimpun pada sejumlah buku antologi bersama. Buku tunggalnya yang telah terbit: kumpulan puisi Harmonika Lelaki Sepi (2010), kumpulan cerpen Sekeping Tanda (2011), kumpulan puisi Lengkung (2012), dan kumpulan cerpen Tentang Pertemuan (2014). Berdomisili di Malang.

PUISI MINGGU terbit setiap hari Minggu. Silakan mengirimkan 5 hingga 10 puisi tematik. Sertakan foto diri dan gambar/foto/ilustrasi untuk mempercantik puisi-puisinya. Tulis bio narasi dan pengantar singkat. Kirimkan ke email : gongtravelling@gmail.com . Ada uang pengganti pulsa Rp 200.000,- dari Puisi Esai Network. Sertakan nomor WA dan nomor rekening banknya.

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==