Kumpulan puisi ini lahir dari perjalanan batin yang mendalam, mencerminkan kerinduan, kehilangan, dan harapan yang terjalin dalam setiap baitnya. Dalam setiap puisi, saya berusaha menangkap esensi dari konsep “rumah” yang lebih dari sekadar bangunan fisik. Rumah adalah tempat di mana kenangan terukir, di mana tawa dan tangis saling berinteraksi, dan di mana cinta selalu menemukan jalannya meskipun dalam kesunyian.
Melalui puisi-puisi ini, saya ingin mengajak pembaca untuk merenungkan makna rumah dalam konteks yang lebih luas. Dari kenangan indah bersama orang tua di teras rumah, hingga refleksi tentang kehidupan di pinggir kota, setiap puisi menggambarkan pengalaman yang universal—perasaan rindu, kesepian, dan harapan yang tak pernah padam.
Saya menulis dengan harapan bahwa setiap kata dapat menyentuh hati pembaca, mengingatkan kita akan pentingnya hubungan, baik dengan orang-orang terkasih maupun dengan diri sendiri. Dalam dunia yang sering kali terasa asing dan dingin, puisi ini adalah upaya untuk menemukan kehangatan dan makna di balik setiap sudut kehidupan. Dengan latar belakang ini, saya berharap puisi-puisi yang saya sajikan dapat menjadi jendela bagi pembaca untuk melihat dan merasakan perjalanan emosional yang saya alami, serta menginspirasi mereka untuk merenungkan arti rumah dalam hidup mereka sendiri.
Umi Kulsum
oOo
Umi Kulsum
DVD
sering kali aku memutar kembali film lama
di teras rumah
yang dulu pernah dipenuhi tawa ibu dan bapak
bunga-bunga menyapa
dan secangkir doa selalu disuguhkannya
kini hanya senja
datang dan pergi
membawa bayangku sendiri
rumah itu, kini berpindah
bersemayam di hati
bersama ibu dan bapak
dan segunung pesan
yang tak pernah aku lewatkan
untuk dibaca kembali
2025
oOo
Umi Kulsum
BUKAN LAGI RUMAH
setiap malam
ada teriakan yang enggan disuarakan
enggan didengar
ia hanya bersemayam di tepi hati
mengalir deras bersama sepi
terbungkam dan tak pernah menjadi cerita
wajahnya dipenuhi kabut
badai seolah menjadi sahabat
saat terlelap atau terjaga
tubuhnya, jendela terbuka
pintu-pintu terbuka
angin berembus kian kemari
menyelinap di sela-sela
kerangka
tiada sempurna
2025
oOo
Umi Kulsum
ATAP LANGIT
perjalanan tadi malam
bukan memotret kisah pedangan asongan
tapi ada cerita terselip pada trotoar kota
tentang manusia yang tidur di emperan harapan
diselumuti dingin malam
tiada tiang
tiada genteng
di mana lelah di lahap tubuh
di sanalah mata terlelap utuh
sesekali terusik oleh lapar
yang menghantui sepanjang malam
batu seolah menjadi kawan
saat perut menggonggong tak karuan
sesekali ia mengukir harap
di setiap malam
agar mimpi-mimpi indah
datang bersamaan kenyang
2025
oOo

Umi Kulsum
RUMAH NENEK
lebaran adalah pembuka arus sungai kerinduan
hadir di setiap tahunnya
singgahku bukan sekedar kembali menyapa
tapi ada pintu yang senantiasa terbuka
menunggu kabar cucunya
2025
oOo
Umi Kulsum
HAKIKAT RUMAH
banyak orang memaknai rumah
adalah tempat menumpahkan rasa
tawa-tawa bertebar
menutup duka
kerinduan pudar dilebur tatapnya
atau di sana tangisan mengalir
tanpa suara
namun, rumah
adalah hamparan kehangatan
yang selalu menyelinap di antara orang-orang di sana
dan ia adalah tempat kembali
saat dunia enggan mendengar
memeluk tepian luka hati
2025
oOo
Umi Kulsum
MEJA MAKAN
meja makan adalah tumpahan kerinduan
yang enggan di ungkap oleh kata
ia menyelinap di piring-piring
disuapnya satu demi satu cinta
makanan itu tumbuh
menjadi tubuh
semakin hari semakin rupawan
2025
oOo


TENTANG PENULIS: Umi Kulsum binti Jaenudin, berasal dari Garut, Jawa Barat. Dia turut aktif di Sekolah Kepenulisan Sastra Peradaban (SKSP) IAIN Purwokerto. Karyanya dimuat di buku kumpulan cerpen tiga paragraf “Secangkir Kopi di Pagi Hari” yang berjudul “Pangeran Impian” dan dimuat di Buku Antologi Lomba cerpen “Sahabat Bersama Sampai Syurga”.IG: ummi_ku22 Gmail. umik4000@gmail.com

PUISI MINGGU terbit setiap hari Minggu. Silakan mengirimkan 5 puisi tematik. Sertakan foto diri dan gambar atau foto ilustrasi untuk mempercantik puisi-puisinya. Tulis bio narasi dan pengantar singkat. Kirimkan ke email : gongtravelling@gmail.com. Ada uang pengganti pulsa Rp 300.000,- dari Denny JA Foundation. Sertakan nomor WA dan nomor rekening banknya. Jika ingin melihat puisi-puisinya yang sudah tayang, klik banner di bawah ini:



