Oleh: Naufal Nabilludin
Menjadi mahasiswa semester akhir adalah pengalaman yang penuh dengan rasa campur aduk. Ada kebahagiaan karena sebentar lagi satu bab dalam hidup ini akan selesai, tapi di sisi lain ada kecemasan yang menggelayut: Setelah ini, apa yang harus aku lakukan?
Pertanyaan itu semakin sering muncul belakangan ini. Bukan hanya aku, tapi juga teman-teman satu angkatan. Kami sama-sama merasakan kebingungan yang mungkin wajar di usia ini—ketika masa depan terasa samar, dan ekspektasi hidup mulai bertabrakan dengan realitas.
Aku tahu, ini mungkin adalah quarter-life crisis—fase yang banyak dialami oleh mereka yang beranjak dewasa. Kami bertanya-tanya tentang arah hidup, karier, masa depan, serta tuntutan sosial yang kian terasa menekan.
Namun, ada satu hal yang memberiku harapan. Aku melihat para senior yang dulu juga melewati fase ini. Mereka pernah ada di titik yang sama—merasa tersesat, tidak yakin harus melangkah ke mana.
Tapi mereka berhasil menemukan jalannya masing-masing. Itu mengingatkanku bahwa ketidakpastian ini tidak permanen. Bahwa setiap kesulitan, sekecil atau sebesar apa pun, pasti akan menemukan jalannya menuju kemudahan.
Meski begitu, tetap saja rasanya sulit untuk optimis, terutama saat melihat kondisi Indonesia saat ini. Korupsi yang merajalela, PHK massal, lapangan pekerjaan yang terbatas—dan jika ada pun, syaratnya begitu banyak dengan gaji yang tidak seberapa. Semua ini menambah lapisan kecemasan yang sudah ada.
Tapi pada akhirnya, aku hanya bisa melakukan yang terbaik. Berusaha sekuat tenaga, berikhtiar dengan sepenuh hati, lalu menyerahkan hasilnya kepada Tuhan—Sang sebaik-baiknya perencana.
Aku hanya bisa berharap bahwa aku dan teman-temanku akan menemukan jalan kami masing-masing, seiring waktu yang terus berjalan.



