Saya ingat, setelah usai jadi nara sumber, Bu Ela dan Pak Ridwan mengajak saya berdialog. Mereka meminta saya untuk ikut bursa pemilihan Ketum FTBM . Saya bertanya, “Kalau saya terpilih, apa yang diharapkan dari saya?” Mereka merasa di era Zulkarnaen (2005 – 2010), Taman Bacaan Masyarakat tidak dikenal. Pak Ridwan berkata tegas, “Harus masuk media massa! Kalau bisa di TV!”

Saat pemilihan, ada beberapa nama. Zulkarnaen maju lagi. Ternyata petahana masih unggul, saya di urutan kedua. Masih jauh. Saya pesimis. Putaran kedua, teman-teman yang tentu dari DKI dan Jawa Barat, dimotori Wien Muldian, Ariful Amir, Firman dan Agus Munawar jadi tim sukses saya. Hmm. Sungguh, itu adalah pengalaman pertama bagi saya. Jujur saja, saya tidak suka dengan “pesta demokrasi” seperti ini. Saya lebih memilih jadi “mujahid literasi” di lapangan, sebagai bentuk penyaluran hobi traveling saya. Hanya saja, saya menghargai keinginan teman-teman. Apalagi petinggi di Kemdikbud RI – seperti Bu Ela dan Pak Ridwan (Pak Danu sudah pindah ke Badan Bahasa) yang meminta langsung kepada saya.


Kukira hny di kotaku yg ada setoran ke dinas terkait… ternyata…
Tradisi uipeti sudah mengakar di kita.