Relawan Gurila Angkasa Pura II Memulai Menulis dari Nol Bersama Gol A Gong

Inilah yang aku amati dalam pelatihan menulis selama tiga hari ini. Metode yang diterapkan mas Gong untuk mereka sebagai penulis pemula aku pantau sejak awal. Bagaimana cara mas Gong menyodorkan teori dasar menulis agar mudah dimengerti, mematahkan kebekuan ide, menjejalkan semangat bahwa mereka mampu menuliskannya.

Selama mas Gong presentasi, aku mengamati para peserta, menganalisis penerimaan slide demi slide, dan ikut lega ketika ketidakyakinan peserta patah oleh draft tulisan mereka sendiri. Silabusnya hari pertama dimulai dari pengenalan para peserta, pemanasan berupa materi duna kerelawanan, berlanjut ke literasi keluarga. Malamnya langsung materi teori dan praktik.

Kuncinya adalah mendongkrak semangat dan mengangkat semangat peserta lebih tinggi. Mereka punya banyak sekali pengalaman sebagai bahan tulisan, dan setiap berangkat ke daerah bencana semuanya diawali iktikad baik menolong. Inilah inti dari hasil tulisan mereka, membagikan kebaikan sebagai salah satu jalan berdakwah.

Barangkali ini kali pertama mereka menulis di bawah tekanan sejak hari pertama. Digedor-gedor dengan teori dan praktik baik menulis di hari pertama, lanjut menyusun outline dan draft pertama tulisan, membuat wajah peserta lebih sering tampak serius. Berbeda sekali dengan saat mereka di luar jam pelatihan, dapat bercanda dan tertawa gembira. Menurut mas Gong memang harus di bawah tekanan begitu, agar ide tulisan yang selama ini sulit muncul dapat menemukan jalannya untuk meledak.

Amirzal, selaku Senior General Manager Commodity Development Angkasa Pura II memberi saran bahwa tuliskan pengalaman selama manjadi relawan Gurila Angkasa Pura II. Pasti ada proses suka dan duka menjadi relawan. “Seru!” kata Amrizal. “Semoga buku ini bisa jadi buku panduan bagi para relawan BUMN se-Indonesia!”

Di hari kedua salah seorang peserta mengaku sangat tertekan hingga mengigau soal penulisan. Disaksikan teman sekamarnya yang juga peserta pelatihan, ia mengigau karena khawatir salah menyusun kata.

Dengan kondisi di bawah tekanan tersebut peserta dipaksa menulis draft, menerima ulasan, menuliskan kembali menjadi 3-4 halaman. Sampai kemudian di hari kedua para peserta diajak mas Gong menyusun outline antologi kisah mereka. Tidak berhenti sampai di situ, hingga menjelang tengah malam peserta distimulus untuk menentukan sampul buku.

Ada beberapa peserta yang tertarik membuat sampul setelah dipancing-pancing mas Gong di sela pelatihan. Rupanya hal ini diseriusin oleh beberapa peserta dan hasilnya ada beberapa sampul buku yang menjadi bahan diskusi.

Setelah peserta mengumpulkan tulisan, melihat beberapa alternatif sampul buku, peserta diajak menentukan tagline buku mereka sendiri. Walau dengan wajah lelah dan mengantuk, aku lihat peserta malah terlecut mengusulkan beberapa tagline. Tidak berhenti di teori, tagline-tagline itu diuji mas Gong dari sisi kemudahan diingat dan dimengerti oleh calon pembaca.

Hal lainnya yang membuat cair adalah banjir hadiah buku-buku sumbangan dari rekan sesama penulis mas Gong, juga buku-buku karya mas Gong sendiri. Saya melihat wajah-wajah peserta yang bahagia ketika menerima hadiah buku. Pokoknya setiap ada peserta yang aktif bertanya dan mengerjakan tugas, mas Gong memberinya hadiah.

Jika aku menempatkan diri sebagai peserta, baru kali ini mendapat pelatihan menulis kisah inspiratif sedemikian lengkap. Aku dapat merasakan proses yang dilalui para peserta selama tiga hari mengikuti tahap-tahap menulis dari nol sampai berhasil menuliskan tiga hingga empat halaman kisah inspiratif. *

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==