Kopi racikan Jon memang unik, kadang kecut, pahit, panas, dingin, kadang buat saya pusing. Pokoknya yang disuguhkan Jon campur aduk.
Yang saya bikin ketagihan sebenarnya bukan kopinya tapi cara Jon menemani saya yang kerap mengajukan berbagai pertanyaan yang membuat otak saya jadi seger.

Jon peracik kopi jalanan yang sangat peka menelaah realitas sosial yang dijelajahinya. Ia hafal betul kehidupan sehari-hari orang-orang di terminal, wong wong cilik, pengamen, supir oplet, bahkan hingga neliti betul prilaku monyet atau munyuk yang doyan kawin.
Jon pun kerap mempertanyakan ekspresi ritual keagamaan yang berhenti pada hal-hal yang rumbai seremonial tanpa diiringi penghayatan. Sebagai contoh ia membahas mengenai seremoni idul Fitri soal takbir dan saling memaafkan yang tiap tahun seakan tidak berimbas pada kebaikan mental pun spiritual kita.
Gimana, mau nyeruput kopi racikan Jon? Cari dan nikmatilah. Rasanya aduh Biyung bikin kecanduan.



