Setelah team kembali ke Jakarta, komunikasi dibangun dengan Fasilitator dan Pemdes via media komunikasi dan semua berjalan dengan baik dan lancar.

Sekretaris Desa Bungalawan, Damianus Beda Tuanaen, menyampaikan bahwa dalam pertempurannya dengan para tetua adat dan perwakilan warga Desa, mereka begitu antusias. Sehingga permintaan Ketua Adat Desa Bungalawan bahwa mesti dilakukan Ritual Bau Lolon untuk meminta Restu Leluhur dalam mendukung kegiatan SLKL ini. Karena ini pengalaman pertama bagi Lewo untuk menerima Tamu dari Kementrian yang mau living in di Bungalawan.
Semua tua Adat bersepakat untuk melakukan Ritual yang dimaksud pada hari selasa tanggal 18 Juni 2024. Pada pelaksanaan Ritual Bau Lolon, hadir semua Tua Adat yang ada di dalam Desa Bungalawan. Peran mereka masing-masing di dalam Suku adalah;

- Pembesar lewo ( tara wana )
- Pembesar lewo ( tara nekin)
- Tato naen ( rumah adat yg fungsix sebagai pembangunan
- Sabon naen ( rumah adat yg berfungsi sebagai tolak bala)
- Ma puke ( rumah adat yg fungsix sebagai kepala perang
- Sina naen ( rumah adat yg berfungsi sebagai penyedia bahan )
- Sira demon ( rumah adat warisan dari raja larantuka )
- Bele arin ( rumah adat sulung dr suku balenaen )
- Bele kapitan ( rumah adat sulung dari suku lewokuma )
Dalam ritual Bau Lolon, wajib menggunakan potongan Bambu, sebagai wadah penyimpanan tuak/arak yang biasa disebut NAWI.
Tempurung yang dijadikan wadah untuk minum yang biasa disebut NEAK.
Siri Pindang (Wua Malu) dan wadah penyimpanannya yang biasa disebut EKOT.
Rokok yang terbuat dari tembakao dan daun koli/lontar. Biasanya disebut Kebako.
Dan yang terakhir Padu. Padu adalah penerang yang digunakan di Jaman dulu yang terbuat dari campuran daun Damar Kapal lalu di lilit di Bambu yang sudah di potong.

Semua Alat ini harus digunakan saat melaksanakan Ritual Bau Lolon. Karena Jaman dulu, Nenek Moyang hanya menggunakan alat itu sebagai kebiasaan aktivitas mereka sehari-hari saat sedang santai atau saat sedang berkumpul.

Dalam proses Adat, dihadiri oleh Tua Adat dan didampingi oleh istrinya. Namun jika ada satu dan lain hal yang menyebabkan sang istri tidak bisa hadir maka bisa di wakili oleh perempuan yang berstatus sebagai ipar. Bukan saudari, anak, tetangga, atau yang lainnya.

Peran perempuan di dalam ritual ini sangat penting.
Sebagai orang yang menyiapkan segala sesuatu (seperti membuat Padu, dll) juga sebagai pelayan saat proses Adat berlangsung. Perempuan sebagai orang yang menjadi jembatan untuk menyuguhkan segalanya bagi Leluhur.

Dalam wawancara team film Dokumenter yang diketuai oleh Mas Yuniarto Bowo, Ketua Suku Yulius Peduli Hala menyampaikan bahwa peran perempuan dan laki-laki sama-sama mempunyai peran yang sangat penting di dalam satu kampung. Perempuan sebagai kekuatan Lewo yang menjadi tumpuhan yang kokoh bagi Laki-laki dan laki-laki yang juga adalah kekuatan Lewo. Yang mempunyai peran sebagai yang melindungi Lewo.

Yulius juga menyampaikan bahwa Zaman dulu Nenek Moyang bukan hanya memberi makan Anak-anak dengan makanan yang bemuara pada perut dan berakhir pada Feshes namun anak juga diberi makan KODA. Koda dalam bahasa Indonesia artinya Kata atau Sabda. Namun dalam dalam bahasa Adat dia bukan sekadar sabda. Lebih dari itu. KODA adalah sesuatu yang bernyawa. Yang hidup.

Pada Proses Adatnya, Kepala Suku menyampaikan niat hati sebagai tujuan mengapa mereka harus melakukan Ritual Bau Lolon. Ketika semua Ketua Suku bersepakat maka terjadilah Ritual tersebut.
Dalam Ritual, Kepala Suku menyampaikan Niat Hati pada Leluhur dengan bahasa Adat, kemudian Istri Kepala Suku akan menuangkan Tuak dan memberikan kepada Kepala Suku. Setelah Kepala Suku menyampaikan syair Adat, ia menuangkan Tuak di Tanah. Sebagai simbol bahwa Leluhur lebih dulu minum baru kemudian mereka boleh minum.

Proses pemberian Tuak Kepala semua Tua Adat sama dan mereka akan melakukan hal yang sama. Sebelum minum mereka menyampaikan niat hati dengan menggunakan bahasa Adat kemudian menuangkan tuak di tanah, baru setelah mereka minum.

Setelah melakukan komunikasi dengan Leluhur, Semua Padu dibagi ke masing-masing tua Adat, bersama dengan istrinya mereka membawa 2 batang Padu ke masing-masing rumah Adat dan membakarnya.
Posisi Padu yang lebih pendek di tanam di pokok tiang dan yang satunya lagi agak keluar di samping kiri.
Persetujuan Leluhur nampak pada Nyalanya Padu sampai selesai.

Pangan lokal di Bungalawan kian merosot di jaman sekarang.
Banyak ritual yang telah hilang. Semuanya seperti terkikis oleh waktu.
Namun kegiatan Sekolah Lapang Kearifan Lokal ini sangat baik untuk membantu bukan hanya Pandu Budaya namun juga Masyarakat Adat Bungalawan terkhusus nya muda mudi dan anak-anak agar bisa menyadari peran mereka sebagai Generasi yang mesti menjaga identitas Nenek Moyang mereka.
*) Maria Natalia Ana Yusti, Guru BK di SMAK Santo Fransiskus Asisi Larantuka – Flores Timur – NTT.



