“Tiga daerah itu antara lain, Lubuklinggau, Musi Rawas dan Musi Rawas Utara.
Silampari menjadi ikon kebudayaan. Dan kisahnya ada di tiga daerah tersebut. Ada legenda sastra lisan atau cerita mitos yang dialih wahanakan menjadi legenda di beberapa penutur. Bagi saya itu adalah keunikan. Maka kami garap menjadi sebuah film dokumenter,” kata Dede usai acara, Jumat (25/11/2022).

Masih dikatakan Dede, dalam masing-masing daerah semua punya legenda Dayang Torek tersebut, tapi beda-beda versi ceritanya.

“Secara singkat kisah Silamprai ini ada kerajaan. Lalu sang raja tidak punya anak dari istri sahnya. Raja minta pada dewa untuk diberikan anak. Lalu lahirlah anak, salah atunya Dayang Torek. Dramanya adalah anak ini pembrian dari dewa dan disebut Silampari atau peri yang hilang,” kata sutradara ‘Dayang Torek: Narasi Perempuan Tiga Daerah’ ini menjelaskan.

Cerita Dayang Torek ini, Dede menambahkan, kisah yang berkembang di masyarakat Lubuklinggau Dayang Torek hilang di latar bukit sulap. Ada peri menghilang ke sana. Versi cerita di Musirawas berbeda lagi, yaitu peri hilang bukan di bukit sulap, melainkan hilang di sungai. Sedangkan versi Musi Rawas Utara, Dayang Torek hilang di Silampari bagian muratara.


