“Makanya kami sengaja membuat film ini tidak ada semacam kesimpulan mana yang mendekati kebenaran cerita tentang Dayang Torek ini. Kami sengaja memunculkan semua versi cerita itu di masing-masing daerah,” ujarnya.

Benny Arnas mengatakan, sebelum kisah Dayang Torek ini dibuat sebagai sebuah film pendek, Benny sudah mengawalinya dari cerpen atau sastra teks yang ia buat. “Saya awalnya tidak pernah terpikirkan untuk menggarap Dayang Torek ini dalam sebuah film. Tapi kemudian setelah sekian lama, sepertinya ini menarik jika diangkat menjadi film pendek,” ujarnya.

Bunda literasi dan Gol A Gong mengapresiasi film Dayang Torek. Yetti Oktarina Prana memberi masukan tentang film ini. Ia mengaku menunggu benang merah dari film ini tapi tidak ada. “Saya pikir nanti ada semacam benang merah dari film ini, jadi versi yang benar seperti apa,” kata Yetti.

Gong juga memberikan masukan, kata Gong, mungkin alangkah baiknya film ini diberikan point of view. “Jadi sebelum masuk ke inti cerita, ada tokoh sentral sebagai point of view yang mengantarnya,” tutup Gong.(*)



