Setelah sampai di Kota Palembang, tim beristirahat sejenak untuk mengabadikan momen di sekitar sungai Musi dengan latar belakang jembatan Ampera. Setelah puas berfoto-foto kami kemudian mencari penginapan tak jauh dari jembatan Ampera. Kami menginap di Hotel Sintera di Jalan Jend. Sudirman No.30-38, 18 Ilir, Kec. Ilir Tim. I, Kota Palembang, Sumatera Selatan.

Barulah pada pukul 19.00 WIB kami bergerak menuju tempat acara diskusi diadakan, di Kedai Kopi dengan nama yang cukup unik, yaitu Bedah Kopi di Jalan Syech A. Somad No.266, 22 Ilir, Kec. Bukit Kecil, Kota Palembang, Sumatera Selatan. Kedai ini berada persis di samping Kampus Bina Husada Palembang.

Dalam diskusi yang diadakan oleh Komunitas Sobat Literasi Jalanan itu, Gong bercerita soal enam dasar literasi yang penting dilakukan oleh para pegiat literasi, seperti pertama Literasi Baca Tulis, kedua Literasi Numerasi, ketiga Literasi Sains, keempat Literasi Digital, kelima Literasi Finansial dan terakhir Literasi Budaya dan Kewargaan.

“Jadi ketika misalnya kita punya prodak makanan, harus juga ditambahkan dengan dibuat literasi tulisnya. Dibuatlah misalnya cara membuat prodak kita bagaimna dan prosesnya seperti apa,” kata Gong, di Bedah Kopi, Senin (21/11/2022).

Gong juga mengajak para pegiat literasi saat ini sudah saatnya tidak hanya sebatas menjadi pelayan bagi masyarakat dengan menggelar berbagai macam kegiatan, tapi juga sudah mulai terbiasa menulis. “Saya juga mengajak teman-teman pegiat literasi di sini, ayo tuliskan perjalanan kalian selama menjadi pegaiat literasi atau dampak membaca bagi kalian. Nanti akan dibukukan oleh Perpusnas RI seperti contohnya buku Leksikon ini,” jelas Gong.

Sementara Toto menjelaskan tentang sejarah Komumitas Rumah Dunia yang dibangun oleh orang-orang yang punya kecintaan yang sama pada literasi dan punya visi yang sama. “Jadi memang kami juga sama, awal-awal membangun Rumah Dunia itu sangat sulit. Tapi kami tetap menggelar kegiatan dan mengundang dinas-dinas terkait, seperti dinas pendidikan atau perpustakaan kota/provinsi. Kuncinya harus konsisten berkegiatan meski tidak ada dukungan dari pemerintah atau dinas perpustakaan,” ujar Toto.

Ditemui di tempat yang sama, pendiri Komunitas Sobat Literasi, Hardi Saputra (31) mengatakan kegiatan santai yang membahas mengenai Taman Bacaan Masyarakat (TBM) dimaksudkan sebagai momen silahturami degan komunitas literasi.

“Pertemuan ini memberikan energi baru bagi kami para pegiat literasi agar terus bersemangat berkegiatan. Karena memang harapannya begitu, bisa memberikan semangat dan motivasi. Mulai dari hal yang sederhana, bahwa apa yang sudah dilakukan harus dijalani dengan konsisten. Sebagai dorongan motivasi biar lebh giat lagi menyebarkan virus literasi,” kata Hardi.

Salah satu peserta yang juga merupakan pendiri Rumah Baca Relawan, Johannes Firano, mengatakan kegiatan ini sangat bagus sekali.
“Acara ini sangat luar biasa. Dan pastinya kegiatan ini sangat bermanfaat, menambah wawasan bagi pegiat literasi di Sumatra Selatan khususnya di Palembang,” jelas Johannes.

Hal yang sama juga dikatakan oleh Ummi Susilawati, yang memiliki Yayasan anak usia dini PAUD Az-Zahra Banyu Asin, di Kabupaten Sumatra Selatan.

“Alhamdulillah dari sini banyak belajar untuk lebih banyak membuat karya lagi dalam hal ini saya sudah membuat lagu-lagu untuk anak. Saat ini saya baru punya 15 lagu anak yang insya Allah akan dilaunching pada bulan Desember nanti,” kata ibu dua anak ini mengakhiri obrolan.


