Salat Subuh di Masjid Agung Palembang

Aku mengiyakan. Kami segera bersiap-siap. Keluar dari hotel kami langsung belok kanan. Jaraknya memang dekat dari hotel, sekitar 200 meter. Pagi itu aku memakai sarung, hitam, kaus, dan peci atau kopiah khas Nusa Tenggara Timur, dengan aksen berwana hijau tosca.

Aku bernostalgia, tahun lalu aku juga ke Palembang, dan sarapan di sekitar masjid. Aku mengingat-ingat momen itu. Tahun lalu aku juga datang ke Palembang dengan Mas Gong, dalam rangka Safari Litersi Temu Penyair Asia Tenggara II di Padang Panjang. Saat itu kami berlima; aku, mas Gong, Toto ST Radik, Rahmat Heldy HS dan Ahmad Wayang.

Tidak lama kami sampai di masjid. Ada pagar yang mengelilingi masjid. Kami harus berputar ke belakang untuk masuk. Mengingat waktu subuh masih lama, kami menyempatkan untuk mengabadikan momen, di masjid yang menjadi salah satu ikon dari Kota Palembang ini. Mas Gong beberapa kali mengagumi masjid ini. Katanya arsitekturnya merupakan perpaduan dari berbagai etnis, dan budaya.

Dari berbagai sumber yang kubaca Masjid ini didirikan oleh Sultan Mahmud Badaruddin I atau dikenal dengan nama Jayo Wikramo. Masjid ini dibangun selama 10 tahun sejak 1738 hingga 1748.

Kami memasuki teras masjid. Ada sekuriti yang berjaga-jaga. Kami menitipkan sandal pada penjaga, dan mulai memasuli teras masjid. Dari luar, masjid dihiasi dengan kaca patri. Setelah membantu mas Gong mengambil beberapa foto, aku berwudhu, lalu mulai memasuki masjid.

Aku disambut dengan hamparan karep merah. Di langit-langit masjid menggantung lampu yang besar dan mewah serta tiang-tiang berwarna hijau yang kokoh. Ornamen dinding dihiasi kaligrafi berwarna emas. Masjid masih sepi jamaah. Hanya ada beberapa jamaah dan lantunan orang mengaji di pengeras suara masjid.

Aku duduk di belakang. Jamah mulai berdatangan. Aku beberapa kali disalami oleh jamaah yang baru datang. Kebanyakan orang tua. Setelah beberapa saat azan dikumandangkan. Waktu subuh telah tiba.

Aku solat sunah qobliah, setelah azan selesai. Setelah solat beberapa orang berjubah warna emas berdiri dan membagi-bagikan kertas yang dilaminating. Aku juga mendapatkannya. Ini pengalaman pertamaku, setelah azan dan sebelun solat subuh, jamaah diajak untuk memuji Allah SWT dengan membaca asmaul husna. Setelah selesai solat subuh dimulai.

Pengalaman yang asyik! Bagi kamu yang nanti ingin ke Palembang jangan hanya foto di jembatan Ampera! Coba juga di Masjid Sultan Mahmud Badaruddin! Jaraknya hanya 400 meter dari jembatan Ampera.

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==