Saya Harus Berhenti Bermimpi Jadi Aktor Teater

Judul naskahnya “Lagu Malam Seorang Preman”. Tentang hari terakhir serang preman. Pemainnya Budi, Nuke, Posma, dan beberapa perempuan. Saya jadi seorang preman yang sudah kehilangan lengan kiri akibat perkelahian.

Seskali naluri keaktoran saya muncul, hahahaha…

Tapi itu adalah pementasan teater pertama saya dan terakhir di UNPAD. Ketika saya ingin mengembangkan keaktoran saya dengan masuk kelompok teater UNPAD, instrukturnya yang juga dosen bilang, “Tidak ada peran untuk kamu!”

Saya tertawa getir. Saya menyusuri jalan Braga, Bandung, malam-malam. Hati seperti patah. Saya harus marah kepada siapa?

Saat itu di Fakultas Sastra akan ada pementasan “Julius Caesar”. Dan di pementasan itu, para tokoh di naskahnya tidak ada seorang pun yang berlengan satu. Saya harus mengakui kenyataan, teater bukan tempat saya. Sebetulnya saat itu saya ingin sekali terlibat jadi satu tokohnya. Saya selalu iri jika melihat para aktor di panggung atau layar lebar berhasil memerankan satu tokoh di luar dirinya.

Naskah pertama dan terakhir yang saya perankan dan sutradarai, Dago Tea House, 1982.

Sejak saat itu, saya tidak lagi tertarik jadi aktor teater kecuali menontonnya di gedung kesenian Rumentang Siang, Kosambi, Bandung. Ada 2 senior saya di SMAN 1 Serang yang kuliah di Akademi Seni Teater Indonesia, yaitu Wahdat dan Rumdhanu. Wahdat sekarang di Kemdikbud RI dan Rumdhanu sudah meninggal.

Foto ini saat saya dan Afet – kami dari SMAN 1 Serang, mengisi peringatan muludan di STMN Serang.

Suatu malam, sekitar tahun 1993-an, saya memasuki gedung kesenian Rumentang Siang, menonton pementasan. Lampu sudah dipadamkan. Saya mencari-cari tempat duduk di deretan depan.

Tiba-tiba ada yang menepuk paha saya. “Kamu sebagai anak sastra harus menulis buku sastra. Balada Si Roy belum masuk kategori itu,” terdengar sebuah suara. Saya hapal suara itu. Saya mencoba meraba-raba penglihatan saya; saya ingin melihat wajahnya. Saya mengangguk dan tersenyum. Entahlah, apakah instruktur teater yang sekaligus dosen saya itu melihat ekspresi wajah saya atau tidak, karena lampu sudah dipadamkan.

Sekarang saya jadi penulis. Itulah rentetan peristiwa yang membuat saya memutuskan menekuni profesi menulis, karena di dunia kepenulisan siapa pun bisa mengambil peran. Profesi menulis tidak diskriminatif.

Gol A Gong

*) Serang, 16 Juni 2022

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==