Aku jadi ingat flyer yang dibuat putriku – Nabila Nurkhalishah, yang kala itu masih di SMA (2014-2017). Di flyer itu tertulis, “Buku membuat saya benar-benar lupa, bahwa saya bertangan satu.”

Flyer ini kado darinya untukku. Dia bercerita, ketika kecil sering mendengar aku mengucapkan kalimat ketika memberi motivasi menulis kepada orang-orang. Dia duduk mendengarkan. Bahkan setiap hari Minggu, saat aku memberikan materi menulis kepada peserta Kelas Menulis Rumah Dunia di halaman belakang rumah.

Jadi dia betul-betul percaya: buku bukan sekadar membuat ayahnya lupa bertangan satu, tapi membuatnya berdaya
Pesanku kepada keempat anakku, “Papah membaca buku bukan bermaksud kelihatan pintar, apalagi minterin orang. “Tapi Papah ingin hidup Papah dari hari ke hari menjadi lebih baik.”

Maka ketika Perpusnas RI menunjuk saya sebagai Duta Baca Indonesia 2021-2025, “Berdaya dengan Buku” adalah tagline yang saya sodorkan dan pada akhirnya mendapatkan muaranya. Tiga kata yang mengalir di peredaran darah saya, seiring dengan visi Perpusnas RI: Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial.
“Berdaya dengan Buku”, semoga juga menjadi api yang berkobar pada diri orang-]orang kebanyakan, yang ingin mengubah hidupnya menjadi lebih baik. Buku, kau bisa eja itu di dalam hatimu. Bukalah halaman pertama, kau harus membuka juga hatimu, karena di sana ada lautan ilmu yang akan kau layari.
Bersambung ke bagian 6



